Seruan Mogok Produsen Tempe Tak Berlaku di Semarang

Editor: Ivan Aditya

SEMARANG, KRJOGJA.com – Seruan mogok produksi tempe dan tahu sebagai imbas kenaikan harga kedelai import tak diindahkan para produsen di Kota Semarang. Padahal seruan tersebut sudah digaungkan melalui media sosial dan pesan berantai ke seluruh jaringan pengusaha di Jawa sebagai bentuk protes.

Agus, pengusaha tempe di wilayah Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari Kota Semarang mengakui beberapa hari terakhir harga kedelai naik hingga Rp 10.900/kg. Kenaikan harga terjadi sejak Covid 19 dari Rp 8.000/kg dan diprediksi pengusaha tempe bisa tembus Rp 12.500/kg.

Kondisi ini memang memberatkan para produsen tempe, namun mau bagaimana lagi. “Kalau kami ikutan mogok produksi maka justru akan mengganggu perekonomian kami. Kedelai sudah kali stok tiga hari lalu, maka kalau kami tidka memproduksinya hari ini justru akan rugi. Sebab membuat tempe itu hari ini untuk 3 hari ke depan,” papar Agus (60) di Pandean Lamper saat menerima pengecekan Tim Ketahanan Pangan Koramil 04 Gayamsari, Kodim 0733 Kota Semarang dipimpin Danramil Mayor Inf Rahmatullah AR SE MM, Senin (21/02/2022).

Begitu mendengar adanya rencana mogok produsen tempe dan tahu, Danramil 04 Gayamsari langsung turun ke lapangan menjalankan perintah Komandan Kodim 0733 Kota Semarang, Letkol Inf Honi Havana MMDS

“Kami diperintahkan mengecek kondisi lapangan, mengingat ini juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Tempe merupakan bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat. Karena nilai ekonominya yang murah, tempe menjadi bahan makanan yang di butuhkan masyarakat, dari kelas menengah bahkan bawah. Oleh karena itu kami mengecek supaya tidak ada dampak maupun gejolak,” kata Rahmatullah.

Dengan didampingi Babinsa, ternyata beberapa produsen yang ada di wilayah Kelurahan Pandean Lamper dan Siwalan tak ada yang ikut mogok. Agus menambahkan, selama konsem menyadari kondisi lapangan harga kedelai, maka kami akan tetap melayani dengan memproduksinya.

“Memang ada penyesuaian, misalnya tempe agak kecil tapi harga jualnya sama. Biasanya harga Rp 4.000,- kedelainya 4,5 ons, sekarang karena mahal jadi 4 ons. Alhamdulillah tidak yang protes. Kuncinya masih bisa dijangkau masyarakat,” kata Agus.

Hal sama juga dilakukan Rujiman, produsen di kawasan Miroto Semarang Tengah. Dia tetap memproduksi karena tuntutan konsumen. Berapa pun harga kedelai, asalkan ada barangnya tetap diproduksi. Alasannya tempe dan tahu sudha menjadi kebutuhan pangan masyarakat.

Dandim melalui Danramil mengapresiasi para produsen Tahu dan Tempe di Kota Semarang yang tetap setia melayani kebutuhan bahan pangan masyarakat. “Dandim menaruh rasa salud, bangga dan hormat atas jiwa-jiwa Pancasila mereka. Dalam kondisi demikian masih peduli dan memikirkan masyarakat. Meski kondisi sulit tapi mereka tetap berjuang dan berkuang tanpa memikirkan kesulitan diri sendiri,” papar Danramil. (Cha)

BERITA REKOMENDASI