Siapkan SDM Kompeten, Kemendikbudristek Gandeng 30 Industri di KIK Kendal

Editor: Agus Sigit

SEMARANG, KRJOGJA.com – Kawasan Industri Kendal (KIK) Jawa Tengah menjadi salah satu kawasan industri yang tumbuh pesat serta menjadi salah satu tujuan investasi global di Indonesia. Seiring dengan perkembangan tersebut, dalam waktu dekat KIK membutuhkan puluhan ribu tenaga kerja yang terampil dan kompeten di berbagai bidang industri yang ada di kawasan tersebut.

Sebagai pencetak sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan kompeten, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dit. Mitras DUDI) berupaya memenuhi tantangan kebutuhan industri di KIK. Sebagai langkah nyata, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menjalin kerja sama dengan industri-industri yang ada di KIK untuk menciptakan SDM yang selaras dengan kebutuhan DUDI pada kawasan industri yang diresmikan sejak 2016 tersebut.

Sebagai tahap awal, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi telah melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 30 industri yang ada di kawasan tersebut. Ke-30 industri ini nantinya akan terlibat dalam pengembangan pendidikan vokasi di satuan pendidikan vokasi untuk memenuhi SDM-SDM vokasi yang mereka butuhkan.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tahap awal ini dilakukan di Hotel Grand Edge, Semarang, Selasa malam (31/5/2022). Penandatanganan dilakukan bersama empat dari 30 industri yang akan terlibat, di antaranya PT Kawasan Industri Kendal, PT Borine Technology Indonesia, PT BSN Technologies Indonesia, dan PT Eclat Textile Indonesia.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto mengatakan Kemendikbudristek sebagai “pabrik” pencetak SDM vokasi memiliki peran strategis untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang andal untuk meningkatkan daya saing industri.

Namun, tantangan yang saat ini masih dihadapi adalah belum sepenuhnya proses pembelajaran di satuan pendidikan vokasi, baik di level SMK maupun perguruan tinggi vokasi telah link and match dengan industri. Hal ini disebabkan belum ada kemitraan yang berkelanjutan dalam proses pembelajaran hingga penyerapan lulusan vokasi.

“Penandatanganan PKS ini menjadi bentuk upaya Kemendikbudristek dalam membangun jembatan kolaborasi antara satuan pendidikan vokasi dengan DUDI. Nantinya, implementasi kerja sama sendiri akan dilakukan oleh SMK dan perguruan tinggi vokasi, seperti dalam penyusunan kurikulum bersama, pelaksanaan magang, pembelajaran berbasis proyek riil dari industri, dan lain sebagainya, sebagaimana tercantum dalam paket link and match 8+i. Nah itu yang harus kita kawal bersama-sama,” ucap Wikan.

Menurut Wikan, terwujudnya keselarasan melalui penguatan kemitraan akan menghasilkan SDM vokasi yang mampu meningkatkan daya saing industri. Kemitraan yang dibangun adalah kerja sama yang saling menguntungkan, di mana vokasi bisa menjawab persoalan yang dialami DUDI.

Masih menurut Wikan, kerja sama dengan KIK bukan satu-satunya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Sebelumnya sudah ada beberapa kawasan industri yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Namun, kerja sama dengan KIK kali ini juga tidak lepas dari potensi KIK yang terus berkembang sebagai kawasan industri di masa depan.

Sebagai salah satu basis investasi global di Indonesia, saat ini setidaknya sudah ada sembilan investor yang berinvestasi di KIK. Para investor ini berasal Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Hongkong, dan negara lainnya. Adapun bidang industri yang menampati KIK di antaranya dari sektor industri fesyen, furnitur, elektronik, makanan dan minuman, serta kemasan dengan total jumlah industri yang sudah ada sekitar 75 industri.

“Untuk itulah kami sudah menyiapkan kurikulum Merdeka Belajar yang bisa menjawab kebutuhan industri ini dan program unggulan kami juga mewajibkan satuan pendidikan vokasi untuk bermitra dengan DUDI, seperti SMK Pusat Keunggulan (SMK PK), Matching Fund, dan Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB),” kata Wikan.

Pada kesempatan tersebut, tak lupa Wikan menyampaikan apresiasi kepada DUDI yang telah bersedia untuk bersumbangsih terhadap kemajuan pendidikan vokasi di Indonesia.

Sementara itu, Executive Director PT Kawasan Industri Kendal, Didik Purbadi mengatakan, kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi merupakan sebuah keharusan untuk memenuhi kebutuhan akan SDM di KIK yang terus meningkat. Saat ini sudah ada sekitar 1.400 lebih lulusan SMK yang terserap disejumlah industri yang ikut dalam kerja sama tersebut.

“Sampai tahun 2023 nanti kita perlu sekitar dua puluh ribu tenaga kerja. Oleh karena itulah, dengan kerja sama ini, kami berharap bisa memenuhi tantangan kebutuhan tenaga kerja ini,” kata Didik yang ikut hadir dalam acara penandatanganan tersebut.

Selain Presiden Direktur PT Kawasan Industri Kendal, hadir pada kegiatan pendatanganan PKS tersebut, antara lain Direktur PT Borine Technology Indonesia, Direktur PT BSN Techologies Indonesia, dan General Plant Manager PT Eclat Textile Indonesia. Sementara pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang turut menyaksikan acara penandatanganan PKS adalah Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Wartanto, Plt. Direktur Kemitraan dan Penyelarasan DUDI, Saryadi, dan Direktur Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, Beny Bandanadjadja. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI