SMK Harus Bisa Mengembangkan Budaya  Industri

SEMARANG,KRJOGJA.com- Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih yang paling tinggi. Adapun TPT SMK mencapai 8,49%. Salah satu penyebabnya adalah belum siapnya lulusan SMK untuk memasuki budaya kerja di Industri.

Siswa yang sudah diterima di industri tidak semua bisa bertahan lama, karena budaya kerja belum banyak disiapkan saat siswa  belajar di SMK. Budaya kerja di SMK dapat dibentuk bila kerjasama SMK dengan industri berorientasi pada pertumbuhan industri mitra.

“Ada 11 teori kemitraan yang bisa diterapkan SMK agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan Industri di antaranya SMK harus memiliki mitra inudusri, kemitraannya berorientasi pada kebutuhan industri, SMK akan efektif bila bisa mencetak lulusan siap kerja,  proses pembelajaran dan pelatihan di SMK identik dengan jenis pekerjaan yang ada di industri mitra, kemitraan akan bermakna bila menopang pertumbuhan industri, kemitraan akan berlanjut bila memiliki manfaat yang dirasakan kedua pihak, SMK menyiapan lulusan yang mampu bekerja pada bidang tertentu sesuai kebutuhan industri, kemitraan memerlukan kesepakatan bersama, kemitraan memerlukan pelibatan semua sumber daya dan kemitraan akan efektif bila menggunakan sistem informasi kemitraan”  ujar Wakil Dekan III Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (FT Unnes) Dr Wirawan Sumbodo MT saat berbicara sebagai nara sumber Workshop di SMKN 4 Semarang Sabtu (10/10/2020) dalam rangka Pembentukan Pusat Pengembangan Karir Siswa (PPKS) di SMK se Kota Semarang.

Pembentukan pusat pengembangan Karier Siswa  (PPKS) di SMK merupakan upaya untuk memberikan pelayanan prima kepada para siswa dan lulusan SMK. Masukan dari para lulusan SMK yang sudah memasuki dunia kerja sangat bermanfaat bagi pengembangn budaya industri di  SMK. Workshop diawali dengan laporan dari Kepala SMKN 4 Semarang  Drs Bambang Sujatmiko MSi dilanjutkan paparan nara sumber Dr Wirawan Sumbodo MT dan dari Training Centre Manager PT Bumen Redjo Abadi Rudy Kurniawan yang juga lulusan SMKN 4 Smg serta ditutup dengan pemberian buku “Pneumatik Hydrolik” karangan Dr Wirawan Sumbodo MT dkk kepada peserta yang bertanya, Kasek SMKN 4  Semarang dan nara sumber industri.

Menurut Dr Wirawan, selain bermitra dengan industri, budaya industri di SMK bisa terbangun dengan melibatkan siswa pada unit produksi yang dimiliki SMK. Pelibatan siswa SMK dalam setiap proses produksi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pelibatan siswa dalam proses produksi ini akan meningkatkan soft skill siswa seperti semangat disiplin, jujur, leadership, komunikasi, dan lain sebagainya. Pengembangan soft skill juga dapat dikembangkan melalui ekstra kurikuler. Budaya industri di SMK akan meningkatkan soft skill siswa sehingga akan mampu menyesuaikan dan mengembangkan industri dimana dia bekerja nantinya. Sudah saatnya SMK berorientasi pada pertumbuhan Industri mitra, sehingga perlu penerapan  kurikulum yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan Industri. Siswa yang terpilih oleh Industri untuk  magang lebih lama sesuai permintaan industri dapat dikonversi lulus mata diklat tertentu. Sehingga masa belajar di sekolah tidak lebih lama. Hakekatnya kurikulum yang baik adalah kurikulum yang bisa menyiapkan Lulusan SMK yang siap kerja, siap melanjutkan studi dan siap berwirausaha mampu menumbuhkan  perekonomian untuk kesejahteraan.

Lebih lanjut menurut dosen FT Unnes penerima beasiswa Sandwich program di Ohio State University (OSU) Amerika Serikat tahun 2012 ini, sebelas teori kemitraan SMK bila diikuti dan dilaksanakan secara baik maka bisa menjadikan SMK berhasil dalam mengembangkan budaya industri di SMK sehingga bisa menghasilkan lulusan yang betul betul siap kerja di industri. Teori kemitraan ciptaan Dr Wirawan ini-pun sudah di HAKI-kan bukunya sehingga bisa semakin luas dipergunakan di berbagai SMK di Indonesia. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI