SMK Jateng Getol Kembangkan Teaching Factory

“Kurang optimalnya keterserapan lulusan SMK pada dunia usaha, industri dan kewirausahaan dapat disebabkan antara lain kurangnya kompetensi lulusan sehingga belum sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pasar kerja. Kurangnya kompetensi lulusan dapat disebabkan 4 faktor yaitu kurikulum SMK belum sesuai kebutuhan dunia usaha, industri dan keriwarauhasaan, serta sarana dan prasarana SMK belum seusai dengan kemajuan industri. Juga pendidik produktif kurang kompeten dalam mengelola pembelajaran serta belum optimalnya kurikulum berbasis poduksi (teaching factory) pada SMK.

Lebih lanjut menurut Dr Hari Wuljanto SPd MSi, salah satu upaya yang dilakukan ialah meningkatkan kompetensi lulusan berbasis dunia usaha, industri, dan kewirausahaan dengan mengembangkan kurikulum berbasis produksi (teaching factory/TF).

“Penerapan konsep pembelajaran TF di Indonesia dimulai 2000 dalam bentuk sangat sederhana yaitu unit produksi. Selanjutnya tahun 2005 berkembang menjadi SMK berbasis industri. Ada 3 kategori SMK berbasis industri yaitu berbasis industri sederhana, berbasis industri berkembang, dan berbentuk Teaching Factory. Model terakhir ini menerapkan pembelajaran langung di tempat praktik, berorientasi produksi seperti halnya di industri nyata. Intinya TF memadukan belajar dan bekerja, bukan lagi memisahkan tempat belajar teori dan praktis. Dari semua SMK di Jateng secara bertahap akan menuju TF, dimulai dari puluhan SMK yang sudah siap dan terbukti mampu menerapkan kurikulum berbasi TF seperti halnya SMKN 6 Semarang dan SMKN Bawen Kabupaten Semarang” tanda Plt Ka Dinas P dan K Jateng Dr Hari Wuljanto Msi. (sgi)

BERITA REKOMENDASI