SMPN 21 Semarang Kaderisasi Keroncong

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG, KRJogja.Com – Niat apapun bila dilandasi rasa pesimis pasti akan membuyarkan pencapaian,barangkali itu yang dihindari Kepala Sekolah SMP N 21 Banyumanik Semarang, Drs S Agung Nugroho MM dalam mewujudkan upayanya mengenalkan Seni Musik Keroncong di kalangan siswa-siswinya.

"Awalnya apa mungkin anak-anak muda senang musik keroncong, sebab orang banyak menilai kerincong musiknya orang tua dan selalu bikin ngantuk pendengarnya. Tapi karena saya pahami bahwa dalam keroncong banyak pesan positif yabg disampaikan termasuk manpu membentuk karakter nasionalis dan patriotis, saya jadi berupaya semaksimal mungkin untuk mengenalkan keroncong agar masuk sekolah. Anak-anak kami dorong minatnya memahami dan belajar seni musik keroncong. Ternyata minat ada dan banyak orang tua yang mendukung," papar Drs S Agung Nugroho MM, Sabtu (21/9/2019) di kampusnya, Jalan Karangrejo Banyumanik, saat mendampingi siswanya main keroncong.

Upaya Agung membuat ekstra musik keroncong memang bukan baru ini saja, sebelumnya saat dia menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMP Negeri Mijen Semarang, juga sudah pernah membuat grup Orkes Keroncong yang anggotanya anak-anak didiknya. Namun sayang hanya berumur 2 tahun saja karena setelah mereka lulus praktis grup bubar dan berganti lagi generasi selanjutnya. Padahal untuk mendidik hingga menjadi pemusik matang butuh waktu dan jam terbang, serta dukungan penuh pihak sekolah.

Orkes Keroncong SMP Negeri Mijen yang pernah didirikannya tersebut bahkan sudah pernah mengiringi penampilan pemyanyi keroncong nasional Titik Maryati, Waldjinah, Sukardi dan bintang keroncong lainnya dalam Pentas Waroeng Kerontjong Semarang sekitar tahun 2011.
Kini ketika dipercaya menjabat Kepala Sekolah SMP Negeri 21 Banyumanik, Agung pun melakukan hal sama merintis berdirinya Orkes Keroncong yang seluruh pemain dan pemyanyinya berstatus murid. Walhasil, ada 22 murid kelas VII dan VIII yang tertarik belajar dan menekuni keroncong.
Aditya, salah satu murid mengaku ingin bisa main alat musik keroncong karena pada anak seusianya langka yang bisa memainkan."Kalau saya bisa memainkan, berarti saya punya kemampuan yang jarang dimiliki orang. Saya tertarik setelah pak Kepala Sekolah ternyata juga pandai main alat keroncong," papar Aditya.

Sementara Rajwa, siswi kelas VII mencoba belajar menyanyi keroncong juga karena alasan tak banyak yang bisa menyanyi keroncong dikalangan siswa seumurannya. Dirinya terinspirasi dari almarhum kakeknya, Mustafa Heimi yang ditahun 1960an menjadi biduan keroncong di Semarang yang kala itu sebagai penyanyi OK Tunas Bhakti.

Agung menyambut gembira anak-anak didiknya yang tumbuh minatnya mempelajari keroncong. " Setidaknya kami mendapati kemudahan ubtuk mengkaderirasi peminat dan pemain keroncong. Dari sini, juga untuk merangsang anak muda agar tidak malu mempelajari keroncong. Sebab. keroncong merupakan seni musik karya bangsa Indonesia yang harus dipertahankan dan dilestarikan,"papar Agung Nugroho.

Bagi kalangan penggiat keroncong Kota Semarang, Drs S Agung Nugroho MM pun dijuluki Kepala Sekolah Keroncong, sosok pendidik yang peduli seni budaya untuk mendidik dan menbentuk karakter siswa-siswinya. Berulang-ulang Agung meyakinkan bahwa lagu-lagu keroncong memiliki pesan kuat menanamkan kesetiaan, keteguhan dan kecintaan. Jarang lagu keroncong mengajak atau mempemgaruhi orang untuk berbuat tidak baik."Diputus kekasih saja, masih mendoakan agar kekasihnya kelak bahagia mendapat penggantinya. Seperti syair lagu Keroncong Ingkar Janji," tandasnya. (Cha)

BERITA REKOMENDASI