Survei Sementara, Ganjar Berpeluang Menang Pilgub Jateng

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG (KRjogja.com) – Hasil survey dari Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI)  terkait Pilgub Jateng menyebutkan, meski Pilgub masih akan berlangsung 27 Juni 2018, namun calon petahana Ganjar Pranowo (GP) sudah mengantongi dukungan suara yang signifikan dari para loyalisnya sebesar 27,7 persen dari total pemilih di provinsi ini. 

“Dukungan ini akan menjadi modal yang signifikan bagi GP bila rekomendasi PDIP jatuh kepadanya,” kata Direktur LPSI  Muchamad Yuliyanto kepada KR, Kamis (21/9/2017).

Pakar Komunikasi Politik Fisip Undip ini menjelaskan, survey pemetaan perilaku pemilih dan dinamika politik menjelang Pilgub Jateng dilakukan 4-15 Agustus 2017 dengan responden sebanyak 3000 calon pemilih, di 35 kabupaten/ kota. Metode yang digunakan multistage random sampling dengan margin error 3,0 persen dan tingkat kepercayaan 97 persen.

Menurut Yulianto, modal suara yang dikantongi GP dari para loyalisnya di Jateng idealnya patut menjadi pertimbangan bagi PDIP dalam menjatuhkan rekomendasi. Peluang GP untuk menang sangat terbuka. Bila suara loyalis digambung dengan dukungan di luar loyalis akan semakin signifikan. Mengingat masih sebanyak 55,1 persen calon pemilih belum menentukan sikap atau dikenal swing voters.

Ditegaskan Yulianto, 27,7 persen loyalis GP tak mempersoalkan GP berhasil atau gagal dalam memimpin Jateng. Bagi mereka, GP figur yang layak memimpin Jateng kembali hingga 2023.”Mereka tak pernah meragukan kepemimpinan GP dan tak akan beralih ke calon yang lain,” paparnya.

Ditanya apakah responden juga dari kalangan pemilih pemula atau pemilih muda, Yulianto mengatakan tak secara khusus membidik mereka. “Tapi kami sependapat GP dengan gesturenya selama ini menjadikan anak muda cocok dan menjadi magnet bagi mereka,” tegasnya.   

Yulianto menambahkan, pertimbangan pemilih dalam menentukan pilihannya, diantaranya program kerja yang ditawarkan calon (31,1%), calon yang merakyat dan suka blusukan ke daerah (23,3%), calon yang memiliki prestasi kerja sebagai pemimpin (12,7%) dan juga memiliki pengalamanmemimpin yang baik (12,6%).

Survey juga merekam munculnya fenonema keinginan untuk mengganti figur gubernur baru sebesar 16,1%. Berarti, kata Yulianto, ada peluang yang sama di antara para calon yang bermunculan untuk menggantikan gubernur petahana. Di sisi lain, perilaku pemilih Jateng ternyata masih sensitive dengan keyakinan dan agama dalam pilihan politik. Terdapat 46,6% pemilih yang menggunakan pendekatan tersebut. “Bisa jadi hal ini sebagai efek perilaku politik Pilkada DKI yang lalu,” tegasnya.

Hasil survey berikutnya, pemilih yang menghendaki kriteria pribadi pasangan calon yang merakyat dan suka blusukan (36,1%), sikap lugas, tegas dan terbuka (22,2%), santun, sejuk dan mengayomi (17,5%) dan juga sederhana, sabar dan komunikatif (14,3%). Sebanyak 33,6 persen pemilih tak mempermasalahkan latar belakang profesi dan status sipil-militer pasangan calon. Mereka lebih mengharapkan calon yang berkualitas seperti kapasitas pribadi, kepemimpinan, integritas dan visi bagi Jateng.

Menurut Yulianto, Pemilih di Jateng sebagian besar tak mempertimbangkan unsur parpol atau koalisi parpol besar sebagai pengusung paslon, yang dipentingkan kualitas pasangan calon. (Isi)

 

BERITA REKOMENDASI