Tahun ini Tak ada Pawai Gunungan di Tradisi Meron

Editor: Ary B Prass

PATI, KRJOGJA.com – Warga desa Sukolilo Pati tetap menggelar tradisi Meron, Rabu (20/10/2021). Mereka berkumpul dari halaman masjid Baitul Mutaqin sebagai pusat kegiatan, hingga pelosok kampung guna melihat “gunungan” yang dipajang perangkat desa setempat.
Meron di Sukolilo yang digelar 12 Robiul Awal merupakan tradisi tahunan mengikuti grebeg Sekatenan di keraton Surakarta dan keraton Yogjakarta, untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Pelaksanaan Meron berjalan aman dan terkendali” kata kades Sukolilo, H Mulyanto SH MH.
Dijelaskan, karena kondisi masih pandemi Covid-19, maka gunungan meron hanya dipajang dihalaman rumah perangkat desa saja. “Jadi, tidak ada pawai gunungan” ujarnya.
“Dalam mengikuti meronan masyarakat memang antusias, karena dianggap memiliki kekuatan magis religius. Selain itu, juga sebagai sarana hiburan yang cukup menarik” tutur tokoh pemuda, Dedy Lece.
Gunungan meron, terdiri dari  ancak, mustaka, dan umbul-umbul. Persiapan pembuatan, biasanya  memakan waktu dua minggu. Kemudian  seminggu sebelum perayaan, hiasan berupa ayam jago dan asesori yang lain, dibuat pada siang hari saat masuk proses malam tirakatan.
Menurut budayawan dan sekaligus tetua masyarakat Sukolilo, kiai Arifin, perayaan Meron merupakan bukti sejarah, peran Walisongo kala itu, untuk mensyiarkan agama Islam ditanah Jawa.

BERITA REKOMENDASI