Tangkal Hoaks, Masyarakat Jangan Pilih- Pilih Vaksin Covid-19

Editor: Ivan Aditya

KUDUS, KRJOGJA.com – Antusias masyarakat terhadap perntingnya vaksin Covid-19 cukup tinggi. Hanya karena ketersediaan vaksin yang masih terbatas, belum seluruhnya dapat terlayani. Seperti halnya antusias warga di Kudus, hingga saat ini baru sekitar 20 persen masyarakatnya mendapatkan suntikan vaksin Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Badai Ismoyo mengatakan, pihaknya masih menunggu kiriman vaksin untuk kebutuhan warga “Kota Kretek’. Hingga kini vaksin yang sudah digunakan sekitar 220 ribu dosis untuk tahap satu dan tahap dua. “Warga Kudus antusias mendapatkan vaksin Covid-19. Mereka tidak terpengaruh adanya isu hoaks terkait masalah vaksin,” ujarnya, Jumat (30/07/2021).

Banyak isu hoaks tentang vaksin Covid-19 tersebar, antara lain beredar kabar bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip yang dapat merugikan manusia di masa mendatang. Menurut Indra Rudiansyah, peneliti asal WNI yang terlibat langsung dalam pengembangan vaksin Covid-19 jenis Astra Zeneca (AZ) yg juga dipakai di Indonesia, berita tentang microchip ini sangat meresahkan karena dapat menjebak masyarakat yang masih ragu untuk divaksin. “Bukan vaksin yang berbahaya, melainkan berita- berita hoaks menyesatkan yang membahayakan,” katanya.

Masyarakat yang sudah teredukasi bisa menghindari berita- berita bohong. Oleh sebab itu masyarakat yang belum paham tentang Vaksin Covid-19 harus dilindungi dengan memberikan edukasi agar tidak menyesatkan.

Pernyataan itu disampaikan Indra Rudiansyah dalam bincang media bersama Dr Ursula Penny Putrikrislia tentang “Fakta Seputar Vaksin dan Upaya Menuju Kekebalan Komunal’, melalui zoom meeting, Kamis (29/07/2021).

Indra- alumni ITB itu menjadi peneliti yang menangani proses uji klinis vaksin Astra Zeneca di Pusat Vaksin Oxford dan tergabung dalam tim Profesor Sarah Gilbert, Kepala Institut Jenner Oxford University, Inggris. Sedang dr Ursula Penny adalah Direktur Rumah Sakit (RS) Harapan Sehat, Bumiayu Brebes.

Indra Rudiansyah dan dr Ursula Penny Putrikrislia, sama- sama alumni Beswan Djarum sebagai penerima program Djarum Beasiswa Plus angkatan 2011/2012, Bakti Pendidikan Djarum Foundation.

Masih terkait hoaks tentang microchip, Indra menyebut bisa dikaitkan dengan Bill Gates. Latar belakang Bill Gates di bidang IT dan menjadi philanthropy, justru yang mendukung vaksin. Bill Gates punya foundation untuk program- program peningkatan kualitas hidup manusia atau CSR.

Sementara dr Ursula Penny menanggapi adanya microchip pada vaksin mengaku geli karena itu tidak mungkin. Alat suntik untuk vaksinasi sangat kecil, hanya muat satu cc dan cairan yang digunakan untuk vaksin hanya setengah cc. Chip tidak muat dimasukkan di dalam suntikkan, karena bentuknya benda padat, sedangkan vaksin benda cair. “Chip tidak bisa ditanamkan ke dalam tubuh melalui suntikan vaksin,” jelasnya.

Dokter Ursula Penny dan Indra Rudiansyah menegaskan, vaksin Covid-19 aman digunakan. Masyarakat diminta tidak memilih- milih vaksin agar tidak memperlambat proses vaksinasi.

Vaksin yang terbaik adalah vaksin tersedia saat ini, yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia di berbagai sektor, baik ekonomi, kesehatan dan lainnya. Maka, seluruh masyarakat sangat penting untuk divaksinasi, agar bisa keluar dari situasi pandemik seperti sekarang ini.

Diungkapkan, ada dua cara untuk mencapai herd immunity, yaitu terpapar secara natural dan melalui vaksinasi. Sebagian populasi rentan untuk terpapar, punya kemungkinan untuk meninggal dan menimbulkan korban jiwa. Tapi jika kelompok yang sudah divaksinasi, virus tidak punya inangnya lagi sehingga memperkecil kemungkinan untuk bermutasi.

Adanya varian baru delta plus virus Covid-19, beberapa jurnal ilmiah melakukan studi di laboratorium menyatakan bahwa vaksin masih tetap efektif melawan beberapa varian yang ada. Hanya ada sedikit penurunan melawan varian tersebut.

Dokter Ursula Penny menambahkan, varian delta memiliki penularan lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. Sekarang ada varian delta plus, sama saja dengan varian delta biasa. Perbedaannya hanya mutasi bentuknya saja. Untuk mencegahnya, yang paling penting adalah melakukan protokol kesehatan. “Mau apapun jenis variannya, yang paling penting adalah vaksin dahulu,” pintanya. (Trq)

BERITA REKOMENDASI