Teknologi Nuklir Atasi Perubahan Iklim

SEMARANG, KRJOGJA.com – Sejumlah peneliti yang tergabung dalam Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) atau Forum Kerjasama Nuklir Asia (beranggotakan 11 negara asia termasuk Indonesia) ditambah Australi,  selama 4 hari (24-28/9) melakukan workshop di Pascasarjana Undip membahas kerja proyek bersama mereka selama setahun lalu terkait  dampak perubahan iklim dengan menggunakan teknologi nuklir.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof Djarot Sulistio Wisnubroto didampingi Wakil Rektor IV Undip Prof Dr Ir  Ambariyanto MSc, Dekan Sekolah Pascasarjana Undip Prof Dr Ir Purwanto DEA, Prof Hendrik Heijnis (peneliti ahli dari Australian Nuclear Science and Technology Organisation/ANSTO), dan  Prof Tomoaki Wada (ahli nuklir Jepang) menyatakan masalah perubahan iklam sudah menjadi isu global. Termasuk saat  sidang umum Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke-62 seminggu lalu juga mengangkat isu perubahan iklim dan peran teknologi nuklir dalam memberikan solusinya.

“Duabelas negara anggota FNCA prihatin  dengan perubahan iklim sehingga melakukan penelitian bersama untuk menanggulangi dampak perubahan iklim dengan menggunakan teknologi nuklir. Tanggal 27 September ini kami mengambil sampel sedimen core di Danau Rawa Pening untuk dianalisis menggunakan teknologi nuklir. Nantinya didapatkan umur setiap lapisan sedimen serta laju sedimentasi antara 100 hingga 150 tahun yang lalu, bahkan dapat mengetahui umur lapisan sedimen hingga ribuan tahun lalu."

"Dari data itu bisa diprediksi ke depan seperti apa nantinya perubahan iklim bisa terjadi. Sehingga data dari kami akan kami sampaikan ke para pemangku kebijakan, kementrian terkait serta kepala daerah untuk selanjutnya bisa mengantisipasi atau setidaknya menahan laju perubahan iklim lewat kebijakan atau peraturan di bidang terkait lingkungan” ujar Prof Djarot.

Ia menambahkan, teknologi nuklir mampu melakukan kajian perubahan iklim masa lampau (paleo-climate) dengan analisis isotop dalam terumbu karang (coral), sedimen laut dan danau. Terumbu karang dan sedimen dapat menyimpan informasi hingga ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI