Tertutup Mendung, Jamaah MAJT Khusuk Salat Gerhana

SEMARANG, KRJOGJA.com – Warga Jawa Tengah yang memenuhi Plaza Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk menyaksikan fenomena super blue blood moon banyak yang kecewa karena cuaca hujan yang akhirnya proses terjadinya gerhana bulan tidak terlihat pada Rabu (31/1/2018) malam. Padahal peristiwa langka yang terjadi 150 tahun sekali.

"Ini semua sebagai kehendak Allah SWT, adanya cuaca mendung dan hujan. Jadi, tak perlu disesali berlarut-larut. Justru sebagai obatnya kita dapat melaksanakan salat gerhana bulan total dengan lebih khusuk," kata Choirul Ulil Albab, warga Perumnas Sendangmulyo, yang mengikuti salat gerhana bulan di MAJT.

Baginya, mengikuti salat gerhana bulan sekaligus mengikuti observasi gerhana bulan oleh Tim Rukyatul Hilal MAJT dan UIN Walisongo, Semarang, sebagai hal kereen. Dia tahu bila MAJT dan Tim Falakiyah UIN Walisongo mempersiapkan penyelenggaraan observasi dan salat gerhana.

“Semua yang terjadi harus disyukuri meski tak sempat menyaksikan bluebood moon,” katanya. Hal senada juga disampaikan sejumlah jamaah salat gerhana di MAJT.

Jamaah asal Klipang, Semarang, Maulana Abdul Aziz (28) yang datang bersama keluarga, mengaku meski kecewa karena tak dapat menyaksikan gerhana bulan secara sempurna tapi tetap bersyukur dapat mengikuti salat gerhana di MAJT.

“Kita juga tetap lega karena bisa menyaksikan proses gerhana di awal-awal, tapi mendekati gerhana total cuaca berubah mendung hingga hujan,” kata Maulana.

Koordinator Tim Hisab Rukyat (THR) Menara Al Husna Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang juga Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia H Ahmad Izzuddin, mengatakan, dari hasil observasi dari Plaza MAJT, gerhana dilihat dari Plaza MAJT dimulai pukul 18.48 wib.

Dia mengungkapkan, tim memanfaatkan tiga alat teleskop milik UIN Walisongo Semarang, MAJT, dan Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah. "Dari hasil observasi kami, gerhana total pukul 19.51 wib dan puncaknya pukul 20.29 wib, akhir gerhana total pukul 21.07 wib, dan akhir gerhana pukul 22.11 wib,” katanya.

Izzuddin juga menjelaskan, bahwa gerhana bulan ini adalah fenomena langka. Dinamakan super blue blood moon karena terjadi di bulan Januari sudah dua kali, kemudian keadaan bulan nanti akan berwarna biru dan berakhir dengan warna merah darah. "Fenomena ini akan terjadi lagi150 tahun yang akan datang, semoga ini menambah 1rasa syukur kita pada Allah SWT," katanya. (Isi)

BERITA REKOMENDASI