Unika Tuan Rumah Konferensi Inernasional ELFA 2021

Editor: Agus Sigit

SEMARANG,KRJOGJA.com – Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang menjadi tuan rumah (host) konferensi internasional ke-16 eLearning Forum Asia (ELFA) 2021 dengan tema “Augmenting the Virtual Envirornment: Technology, Innovation, Humanity” yang dilaksanakan secara daring Selasa-Rabu (30/11/2021 dan 1/12/2021).

Ketua panitia kegiatan Dr Heny Hartono SS MPd didampingi Ka Humas Unika Yuwono Agus kepada pers menyampaikan konferensi ELFA ke-16 dengan tuan rumah Unika ini merupakan konferensi kedua yang dilakukan secara online (sebelumnya sebagai host universitas di Hongkong). Awalnya Unika digandeng United Board (UB) for Christian Higher Education for Asia untuk mengajukan proposal sebagai tuan rumah konferensi ELFA yang ke-16 dan akhirnya disetujui sehingga Unika merupakan perguruan tinggi (PT) Indonesia pertama yang menjadi tuan rumah konferensi ini dan berlangsung sukses.

“Keynote speaker konferensi ini Kevin Henderson (United Board), Albert Chau (Hongkong Baptist University) dan Budi Widianarko (Unika Soegijapranata). Kami melakukan persiapan cukup lama sekitar 10 bulan sejak disetujui sebagai tuang rumah karena ini even besar dan tiap bulan kami rapat dengan Organising Comitte (OC) melaporkan segala persiapan yang dilakukan tiap bulannya sampai terselenggaranya kegiatan. President ELFA pun pada pembukaan acara menyampaikan apresiasi tinggi ke Unika karena pertama kalinya dengan Indonesia dan jadi host serta berlangsung sangat baik” ujar Dr Henny.

Terkait dengan acar konferensi, acara melibatkan anggota ELFA serta masyarakat umum pemerhati pendidikan dan e-learning. Peserta kami target 100 presentasi paralel, tetapi antusias tinggi sehingga masuk 166 abstrak yang semuanya bagus. Panitia akhirnya mengambil 149 dan dipresentasikan selama dua hari sesi paralel. Peserta non presenter juga sangat tinggi animonya, terdaftar 713 peserta sehingga terpaksa tidak semuanya berhasil bisa masuk ke semua sesi karena banyaknya.

“Tema diangkat menyangkut persoalan refleksi khususnya selama pandemi menyangkut berbagai bidang yang semuanya dipaksa online, sekarang mencoba melihat kembali apakah teknologi betul-betul bisa mendukung dunia pendidikan atau tidaknya. Tidak lupa mengangkat kembali humanity atau kemanusiaan, teknologi sebagai alat dan aspek humanity tidak boleh dilupakan. Dua hari bicara tentang e-learning juga hal-hal yang ada kaitannya dengan humanity” ujar Dr Heny.

Lebih lanjut menurut Dr Heny, selain konferensi ada juga pemilihan award (emas perak, perunggu) yang sangat prestisius. Sedikitnya ada 44 proposal tentang kegiatan ini misalnya terkait pengabdian masyarakat, terkait pendidikan dan lain lain.

“Semuanya harus berkaitan dengan teknologi. Kriteria yang kami nilai menyangkut relevansi tema, keunikan, dan manfaatnya. Terutama yang terknologi dan inovasi banyak yang bagus. Ini seru karena juri ketat menilainya dan semuanya bagus. Misalnya ada program yang bisa mengoreki pekerjaan guru, juga robot yang bisa membantu di sekolah perawat dan lain-lain. Untuk pengabdian masyarakat misalnya pemberdayaan perempuan desa agar bisa melek teknologi dan lain lain. Sistem penilaian sudah bagus dan dibuat tim Singapura dan kami panitia tinggal menjalankannya” tandas Dr Heny. (sgi)

BERITA REKOMENDASI