Unimus Deklarasi Sebagai Heath Promoting University

Editor: Agus Sigit

SEMARANG,KRJOGJA.com- Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) segera mendeklarasikan diri sebagai kampus atau universitas yang mempromosikan kesehatan.

Upaya tersebut diinisiasi Fakultas Kedokteran Unimus yang tahun ini menjalankan program Health Promoting University (HPU) yang dilaksanakan selama beberapa bulan terakhir.

Program yang mendapat asisteni dari Fakultas Kedoketeran UGM ini-pun sangat diapresiasi dan didukung penuh oleh pimpinan Unimus. Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd selain mengapresiasi, juga ingin di tahun-tahun mendatang program HPU bisa diterapkan di semua fakultas yang ada di Unimus atau untuk tingkat lebih luas yaitu universitas.

Sebagai rangkaian acara HPU, FK Unimus menggelar acara podcast FK Unimus (Podkesmus), Rabu (3/11) di kampus FK Unimus dengan mengundang 2 dosen FK UGM sebagai pembicara. Yaitu Dr dr Dicky Moch Risal MKes SpAnd(K) AIFM dengan topik “Stres dan Gangguan Seksualitas”dan dr Rakhmat Ari Wibowo MSc dengan topik “Peran Aktivitas Fisik dalam Mencegah Stres” didukung host podcast dr M Risa Setiawan MOSH (dosen FK Unimus).

Pada paparannya Dr dr Dicky Moch Risal MKes SpAnd(K) AIFM menyampai beberapa hal penting di antaranya terkait dampak pandemi pada jumlah pasien gangguan seksualitas, dampak stres terhadap seksualitas, penyebab gangguan seksualitas, terapi gangguan seksualitas, kapan harus konsultasi ke dokter spesialis Andrologi, Spesialis Obgyn dan Spesialis Kesehatan Jiwa, serta pencegahan gangguan seksualitas (terutama karena stres).

“Pandemi covid-19 berdampak pula pada peningkatan jumlah pasien gangguan seksualitas. Selain membawa dampak pada organ pernafasan (ini yang banyak diketahui masyarakat) Covid-19 juga membawa dampak langsung ke organ-organ yang terkait langsung seksualitas seseorang. Juga dampak stres terhadap seksualitas yang disebabkan akibat pandemi covid-19” ujar Dr dr Dicky Moch Risal MKes SpAnd(K) AIFM.

Sedangkan narasumber dr Rakhmat Ari Wibowo MSc menyampaikan sejumlah permasalahan di antaranya dampak pandemi pada kegiatan aktivitas fisik kita, dampak aktivitas fisik yang kurang (sedentary lifestyle) dan aktivitas fisik berlebih pada stres, aktivitas fisik sebagai terapi stres, syarat aktivitas fisik yang bermanfaat bagi kesehatan, serta tips memperbanyak aktivitas fisik bagi lingkungan kampus (dosen, tendik, dan mahasiswa) terutama saat pandemi belum berakhir maupun nantinya jika pandemi sudah usai.

“Dari penelitian kami saat pandemi covid, secara umum masyarakat sekitar 30 persen kurang aktivita fisik atau 3 dari 10 orang perlu menambah kegiatan fisiknya. Untuk mahasiswa lebih kawatir lagi karena 5 atau 6 dari 10 mahasiswa kurang aktivitas fisiknya karena kegiatan mahasiswa banyak serba online. Penelitian awal pandemi, 5 dari 10 mahasiswa kurang aktivitas fisik dan saat pandemi makin tinggi maka angkanya meningkat, 6 sampai 7 dari 10 mahasiswa kurang aktivitas fisiknya. Terlebih lagi mahasiswa fakultas kedokteran, banyak materi kuliah dari pagi sampai sore bahkan malam harus diikuti secara online sehingga kurang aktivitas fiiknya” ujar dr Rakhmat Ari Wibowo MSc. (sgi)

BERITA REKOMENDASI