Warga Lasem Jamas Pusaka Peninggalan Sunan Bonang

Editor: Ivan Aditya

SETIAP tanggal 10 Dzulhijah, tepatnya selepas Salat Idul Adha bertempat di rumah juru kunci pusaka Sunan Bonang, H Abdul Wachid (60) di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang selalu dibanjiri ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Seperti dalam penjamasan Senin (12/09/2016), ratusan pengunjung dari berbagai daerah sudah membanjiri Desa Bonang. Bahkan tamu dari luar kota terpaksa menginap semalam hanya untuk menyaksikan acara tahunan tersebut.

Alkisah Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) semasa hidupnya memang memilih Desa Bonang sebagai sentra pondok pesantren guna melakukan syiar Agama Islam, sebagaimana diamanatkan oleh gurunya, Sunan Ampel di Ampeldenta, Surabaya. Maulana Makdum Ibrahim muda diperintahkan gurunya berjalan ke arah Barat (dari Surabaya yang kala itu namanya Ampel) hingga bertemu dengan pohon kemuning yang subur.

Sesampai di sebuah tempat, di lereng pegunungan Argopuro di tepian pantai utara Sunan Bonang muda, akhirnya menemukan banyaknya pohon kemuning. Desa Bonang konon dinamakan Desa Kemuning, namun akhirnya dinamakan Desa Bonang karena sebagai tempat mukim sekaligus pusat pendidikan agama Islam di bawah asuhan Sunan Bonang hingga akhir hayatnya.

Sang Sunan yang merupakan salah satu tokoh sentral Wali Sanga, dikenal memiliki pusaka Kyai Bende Becak yang konon menurut sahibul hikayat merupakan penjelmaan utusan dari Kerajaan Majapahit Pak Becak yang hendak menghadap Sunan di waktu senjakala. Dari kejauhan utusan tersebut selalu mendendangkan irama (nyanyian) hingga mendekati masjid tempat sang Sunan sedang mengajarkan agama.

Karena dianggap mengganggu, para murid mempertanyakan datangnya suara, Sunan Bonang kemudian berujar jika suara tersebut adalah suara bende dan tanpa disangka Pak Becak yang sudah berdiri di dekat masjid berubah menjadi bende (salah satu piranti gamelan Jawa). Sunan Bonang begitu kaget dan kecewa, ternyata ucapannya menjadi kenyataan, seketika itu juga bende yang kemudian diberi nama ‘Kyai Bende Becak’ itu dirawat Sunan hingga akhir hayatnya, sekaligus diperintahkan kepada para murid agar tetap merawat pusaka tersebut.

“Terlepas dari mitos hikayat dari para orang tua, karena ucapan seorang Waliullah, maka yang diucapkan mendapat izin Allah. Kita sebagai generasi penerus akan tetap melestarikan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Bonang dengan melakukan penjamasan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah,” kata juru kunci pusaka, H Abdul Wachid.

Tujuh belanga yang berisikan air sumur Bonang, berikut bunga setaman digunakan untuk mencuci pusaka Kyai Bende Becak yang terbungkus kain mori putih. Air bekas jamasan, bunga maupun kain mori yang disobek sobek kecil, senantiasa menjadi rebutan para pengunjung, sehingga panitia sempat kewalahan membagikan peda pengunjung yang jumlahnya ratusan orang.

Meski para ulama dalam sambutannya selalu meminta kepada peziarah untuk tidak mempercayai sesuatu yang bias mengakibatkan perilaku musrik (syirik) namun, para pengunjung dari tahun ke tahun selalu tidak berubah. Mereka meyakini, air bekas jamasan, kain mori putih dan sisa bunga jamasan dapat digunakan sebagai tolak balak (terhindar dari marabahaya) karena perlindungan Allah melalui seorang wali-Nya yaitu Sunan Bonang.

Mewakili Bupati Rembang yang berhalangan hadir, Camat Lasem Kukuh Purwasana dalam sambutannya mengatakan, jika acara ritual penjamasan Bende Becak merupakan acara tahunan yang layak dikemas menjadi wisata religi-budaya menyatu dengan heritage yang ada di kota tua Lasem. Bupati Rembang H Abdul Hafid di berbagai kesempatan menyatakan jika kawasan Bonang-Lasem akan dijadikan destinasi Budaya Religi.

Desa Bonang dengan berbagai jenis petilasan Sunan Bonang serta kota tua Lasem yang kaya akan peninggalan dan akulturasi kebudayaan Islam-Jawa-Tionghoa. Di seputar Desa Bonang diyakini terdapat makam Sunan Bonang karena tempat terakhir mukimnya sunan dalam syiar agama Islam,meski fakta membuktikan di Tuban, Jawa Timur juga terdapat makam Sunan Bonang. Dari Desa Bonang sebelah Utara, terdapat pasujudan Sunan Bonang yang merupakan puncak perbukitan/pegunungan Argopuro yang sekarang juga banyak makam para murid kesayangan Sunan diantaranya makam Putri Campa (puteri dari Kamboja) serta makam Raja Minangkabau (Sultan Mahmud) yang berguru kepada Sunan Bonang hingga akhir hayatnya.

“Beberapa tahun silam, ahli waris Sultan Mahmud menyempatkan datang ke Lasem menemui saya dan melakukan penelitian di makam Sultan Mahmud. Ternyata benar, karena ahli waris yang datang itu membawa ahli sejarah,” jelas pimpinan pondok pesantren Kauman, Lasem KH Zaim Achmad Ma`shoem ( Gus Zaim) di kediamannya. (Agus Sutomo)

BERITA REKOMENDASI