1.211 Keris Hibah Kemendikbud Dibongkar

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Sebanyak 1.211 bilah keris hibah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang diterima Museum Keris Nusantara (MKN) Solo pekan lalu, dibongkar dari peti penyimpanan, satu diantaranya diketahui berasal dari Filipina. Dalam beberapa hari ke depan, tim kurator MKN bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah (Jateng), akan melakukan verifikasi, terutama pada keris dan senjata tradisional yang dalam dokumen pengiriman disebutkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB).

Dari pengamatan sekilas, ungkap Ki Ronggojati Sugiyatno, salah satu anggota tim kurator MKN, menjawab wartawan, di sela pembongkaran keris, Kamis (22/3), sebanyak 131 bilah keris dan senjata tradisional yang diduga sebagai BCB, memang mengarah pada status artefak. Hanya saja, untuk memastikan perlu pencermatan lebih detil, hingga usia, tangguh, pamor, sejarah dan elemen lain pada masing-masing keris, dapat terungkap secara rinci.

Sedangkan dari sisi ragam bentuk keris, Giyatno menyebut, relatif lengkap, dalam arti mampu menggambarkan kekayaan senjata tradisional nusantara. Dari sekitar 131 bilah senjata tradisional yang diduga sebagai BCB, salah satu diantaranya diketahui berasal dari Kerajaan Zulu (sekarang Filipina-red), selain pula keris dari berbagai zaman mulai dari Majapahit sekitar abad 12 hingga Mataram baru. "Ini akan memperkaya koleksi MKN, yang selama ini memang lebih didominasi keris Jawa," ujar pakar keris itu.

Di sisi lain, Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang ikut menyaksikan pembongkaran keris, mengisyaratkan, sebelum seluruh keris dan senjata tradisional hibah dari Kemendikbud itu,  sebelum dipajang pada etalase MKN, dilakukan jamasan, dengan mengacu tradisi Jawa. "Bukan masalah mitos atau hal lain, kondisi sebagian besar keris memang berkarat, sehingga perlu dibersihkan atau dijamasi sebagai bentuk pemeliharaan," ujarnya sembari menyebut, selain itu pamor yang menjadi elemen keindahan keris akan muncul.

Bahkan pria yang akrab disapa Rudy itu menilai, prosesi jamasan cukup mendesak, setelaha melihat kondisi keris yang mungkin puluhan tahun tak terawat. Soal biaya jamasan yang cukup besar, terutama pembelian bahan warangan berupa campuran arsenikum serta bahan kimia lain, dia meminta Dinas Kebudayaan mencarikan anggaran dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan. Jika memang belum ada mata anggaran untuk jamasan, tambahnya, bisa dicarikan solusi dengan menggeser pos anggaran lain yang memungkinkan.

Menjawab pertanyaan nasib keris hibah yang ternyata tidak masuk dalam kategori BCB, Rudy meminta, tetap disimpan di MKN, kendati tidak harus di pajang pada etalase ruang pamer. Meski sebagai produk baru, jelasnya, keris tetap menjadi benda budaya yang mesti dipelihara, minimal sebagai bentuk pelestarian tradisi pembuatan keris yang berlanjut hingga saat ini. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI