1 Abad MPN, Kembali Menjadi Pusat Kebudayaan

SOLO, KRJOGJA.com – Gedung Societet Sasana Soeka  Mangkunegaran sekarang bernama gedung Monumen Pers Nasional (MPN) yang kini berusia genap seabad  memiliki sejarah panjang bisa mewarnai dan mengubah tatanan baik sendi sosial, budaya, politik serta dinamika dunia jurnalistik di Indonesia. 

Monumen Pers memiliki peran ke depannya di era kekinian yang memasuki revolusi ke empat disrutif 4.0  menjadi tonggak dan cerminan sejarah, jangan sampai Indonesia ke depan sejarahnya dibelokkan. Materi di museum pers berupa jutaan lembar media cetak diubah dalam format digital, dapat diakses oleh generasi milenial agar generasi muda mengetahui seluruh konten media di seluruh Indonesia  yang merupakan cerminan perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang terdiri dari ratusan suku serta ratusan bahasa tersebar di seluruh tanah air Indonesia.

Demikian rangkuman seminar nasional  100 tahun  gedung Societiet Sasana Soeka  Mangkunegaran yang sekarang disebut gedung Monumen Pers Nasional (MPN) dengan pembicara R Niken Widiastuti Direktur Jenderal IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) , budayawan, sejahrawan Taufik Rahzen, Staf ahli Kominfo yang juga Kepala Pusat Informasi dan Humas Ismail Cawidu, dimoderatori Ketua PWI Surakarta  Anas Syahirul di hotel Sahid Jaya, Jumat (26/10/2018).

Menurut Dirjen IKP Kominfo Niken Widiastuti dari sejarah MPN generasi muda dapat mendapat semangat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. "Bayangkan waktu tahun 1946 -an para wartawan berangkat dari Sumatra, Kalimantan dan kota -kota lain untuk menuju kota Solo dengan satu semangat untuk mengikuti pembentukan organisasi profesi kewartawanan pertama yaitu PWI (Persatuan Waratawan Indonesia) terbentuk pada 9 Pebruari 1946, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia dan Hari Pers Nasional.

Sementara budayawan, Taufik Rahzen mengungkapkan peristiwa unik dan fenomenal di Societeit Sasana Suka Mangkunegaran, dimana saat itu tahun 1934, dari Societet  dilakukan rekaman gending-gending melalui gelombang radio MW dipancarkan. Siaran dari Societet itu  ditangkap di negeri Belanda untuk mengiringi tarian Jawa yang digelar di kerajaan Ratu Belanda saat itu. (Hwa)

BERITA REKOMENDASI