11 EWS Outdoor Hibah UNS Dipasang ke Lokasi Rawan Longsor

Editor: Agus Sigit

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Sebanyak 11 alat early warning system (EWS) dipasang di titik rawan longsor di Kecamatan Jatiyoso, Matesih, Karangpandan, Tawangmangu dan Ngargoyoso. Alat ini lebih peka menangkap sinyal pergerakan tanah di radius kawasan.
EWS outdoor tersebut hasil penyempurnaan alat peringatan dini longsor yang dipasang di dalam rumah atau indoor. Para peneliti Fakultas MIPA UNS pada 2019 lalu menghibahkan 100 unit sensor portable dan dua unit sensor tanam perangkat EWS untuk tanah bergerak ke 11 desa di enam kecamatan rawan longsor.
Hanya saja untuk EWS indoor hanya mampu mendeteksi pergerakan tanah dari retakan dinding rumah. Bedanya dengan EWS outdoor ini, potensi longsor dapat dideteksi dari rekahan tanah serta lebih akurat. Sinyal bakal datang bencana juga mudah diketahui masyarakat sekitar. Upaya ini untuk memunimalisasi jatuh korban jiwa maupun memberi waktu bagi masyarakat untuk mengevakuasi diri.
Dekan Fakultas MIPA UNS Harjono mengatakan EWS outdoor merupakan hasil penelitian lab Optik di Bagian Fisika FMIPA.
“EWS ini program hibah pemerintah yang dikerjakan DR Ahmad Marzuki dari Lab Optik. Pengembangan setelah hibah tahun 2019, dimana EWS saat itu bersifat indoor,” katanya usai menyerahkan EWS secara simbolis ke Sekda Sutarno di kantor BPBD Karanganyar, Kamis (30/6).
Sedangkan penerima hibah penelitian, DR Ahmad Marzuki meminta Pemkab Karanganyar memanfaatkan dan merawat perangkat tersebut. Menurutnya, pemerintah daerah mampu melakukannya.
“Sebenarnya relatif murah. Per unit Rp75 juta. Perawatannya juga tidak memberatkan anggaran Pemda. Hanya saja perlu ketelitian. Kami siap memberikan pendampingan untuk operatornya,” katanya.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bagoes Darmadi berharap dengan jangkauan sinyal EWS yang lebih luas, maka dampak longsor bisa diminimalisasi. Kini, diperlukan sosialisasi bagi masyarakat di lokasi pemasangan EWS tersebut.
“Guna membaca sinyal lalu merespons dengan evakuasi segera. Kami masih mempelajari manual book penggunaan EWS ini. Tentu sangat membantu untuk mitigasi bencana alam,” katanya.
Sekda Sutarno meminta dianggarkan biaya perawatan EWS outdoor yang akan dipasang di 5 wilayah kecamatan.
“Camat dan pemerintah desa untuk menganggarkan perawatan alat EWS itu agar tetap berfungsi. Sebab keberadaan alat itu akan membantu menghindarkan warga dari korban fatal saat terjadi longsor,” katanya. (Lim)
UNS

BERITA REKOMENDASI