18 Persen UMKM Didorong Bermigrasi ke Marketplace

SOLO, KRJOGJA.com – Sekitar 18 persen dari populasi 59 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang selama inim masih menggunakan media sosial (medsos), seperti facebook, instagram, line dan lain-lain, didorong bermigrasi ke marketplace dalam memasarkan produk masing-masing. Pasalnya, dengan membuka toko online di marketplace mampu meningkatkan trnsaksi hingga dua kali lipat dibanding model pemasran produk lewat media sosial.

Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Septriana Tangkary, menjawab wartawan usai sosialisasi  belanja dan jualan online, di Balaikota Solo, Kamis (15/11/2018), menambahkan, hingga saat ini UMKM yang telah bergabung di sejumlah situs marketplace baru mencapai 8 persen atau sekitar 3,7 unit. Sedangkan sisanya, sekitar 18 persen memanfaatkan media sosial sejenis facebook, instagram, line dan sebagainya, kemudian 36 persen memanfaatkan WhatsApp, dan 37 persen menggunakan telepon konvensional.

Pemerintah pusat, tambahnya, saat ini sudah menjalin kerjasama dengan seluruh situs marketplace di Indonasia, seperti Blibli.com, bukalapak.com, sophie.com, lazada.con, dan lain-lain, untuk memfasilitasi UMKM memasarkan produk mereka. Pemanfaatan situs marketplace untuk memasarkan produk UMKM, hampir tak bisa dihindari lagi, sebab transaksi online semakin pouler di tengah masyarakat, terkait berbagai kemudahan yang ditawarkan. Seseorang ketika berbelanja barang apapun, tak perlu harus keluar dari rumah, sebab transaksi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja hanya melalui smartphone.

Hanya saja, sejauh ini barang-barang produk UMKM yang ditawarkan dalam situs marketplace relatif masih kecil, sebaliknya justru didominasi produk dari negara manca. Padahal, potensi produk UMKM di seluruh penjuru Indonesia sangat beragam dan memiliki banyak keunggulan. Bahkan kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, mencapai 61,41 persen. Kalau saja produk UMKM nantinya mampu mendominasi transaksi di marketplace, diyakini struktur perekonomian masyarakat semakin kuat.

"Jangan sampai masyarakat Indonesia nanti hanya menjadi pasar bagi produk-produk manca negara," ujar Septriana sembari menyebut, sebaliknya produk UMKM dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hanya saja, hal itu memerlukan prasayarat, seluruh masyarakat Indonesia mencintai produk dalam negeri yang sejatinya memiliki kualitas lebih baik.

Potensi pasar melalui transaksi online, menurutnya sangat besar, menyusul jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 54 persen dari populasi penduduk, dan sekaligus terbesar di Asia. Diperkirakan, pada tahun 2020 mendatang, transaksi secara online di Indonesia mencapai 130 miliar US Dollar, terkait berbagai kemudahan yang ditawarkan, seperti aspek murah, cepat, dan aman.(Hut)

 

BERITA REKOMENDASI