2.095 Warga Solo Alami Gangguan Jiwa?

SOLO (KRjogja.com) – Sedikitnya 2.095 warga Solo terdeteksi mengalami gangguan jiwa, dan 760 orang diantaranya tergolong terkena gangguan jiwa berat. Angka tersebut dihimpun dari arus kunjungan pasien yang datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat (PUskesmas), sedangkan di luar sangat mungkin lebih besar lagi, sebab pada dasarnya hampir setiap orang memiliki resiko gangguan jiwa dalam kadar seringan apapun.

Semua pasien yang terdeteksi mengalami gangguan jiwa tersebut, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Dikas Kesehatan Kota (DKK), Dwi Martiastutik, sudah tertangani, termasuk merujuk ke Rumah Sakit Jiwa daerah (RSJD) untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Meski belum memiliki data secara rinci, tambahnya, menjawab wartawan dalam kaitan peringatan Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia, di Balaikota, Selasa (27/9/2016), populasi gangguan jiwa memang cenderung menaik.

Jika mengacu pada data di RSJD Solo, tambah dr Maria Rini, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Solo, kenaikan pasien gangguan jiwa rata-rata mengalami kenaikan sekitar 10 persen per tahun. Pada tahun 2013 misalnya, jumlah pasien baru yang menjalani rawat jalan tercatat 1.516 orang, pada tahun 2014 naik menjadi 1.719 orang, dan tahun 2015 menjadi 1.728 orang. Sedangkan populasi pasien yang harus menjalani rawat inap. pada tahun 2013 sebanyak 3.190, tahun 2014 turun menjadi 1.139, tapi tahun 2015 melonjak hingga 2.817 orang.

Melihat kecenderungan warga yang terkena gangguan jiwa menaik, tambahnya, langkah antisipasi perlu dilakukan, diantaranya mengenali tanda-tanda dan gejala gangguan jiwa, sekaligus melakukan tindakan pertama, sebelum terlanjur semakin parah. Sedangkan tanda dan gejala gangguan jiwa, secara awam dapat dikenali diantaranya susah tidur, cemas, prestasi menurun, sulit berkonsentrasi dan masih banyak varian lain.

Demikian pula faktor penyebab gangguan jiwa lebih bersifat holistik, baik internal maupun eksternal. Penyebab internal di sini, terkait dengan riwayat keluarga, atau sering sebagai bawaan sejak lahir, sedangkan faktor eksternal dipicu dari lingkungan sosial dan budaya, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. "Karenanya, semua orang pada dasarnya berresiko mengalami gangguan jiwa," ujarnya sembari menyebut, terkait itu pula dalam kaitan peringatan Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia dilabeli dengan tema, 'We have the same risk'. (Hut)

BERITA REKOMENDASI