20 Tahun Vakum Bercocok Tanam, Petani Bawang Putih Bangkit

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Panen raya bawang putih di Desa Segoro Gunung, Ngargoyoso membuktikan budidayanya itu di lereng Gunung Lawu kembali bangkit. Pola kemitraan antarkelompok tani dengan swasta menjadi kunci sukses kebangkitannya. 

"Budidaya bawang putih sudah 20 tahun vakum. Pasarannya enggak menjamin, karena harganya sering jatuh. Ongkos tanam dengan hasilnya timpang," kata Kepala Desa Segoro Gunung, Tri Harjono di lapangan desa setempat, Selasa (3/9). 

Kondisi demikian berubah berkat ajakan bermitra dari perusahaan swasta. Para petani diberi secara cuma-cuma bibit bawang putih jenis Tawangmangu Baru dan beberapa jenis lokal lainnya. Lahan digarap 30 hektare dari total tersedia 115 hektare. Pada panen Juli-Agustus dan Agustus-September, dihasilkan rata-rata 18,4 ton per hektare.  Sebagian hasil panen dibeli perusahaan dengan harga Rp 18 ribu perkilogram kondisi basah. Pola kemitrannya, yakni 70 persen hasil panen hak petani sedangkan 30 persen dibeli perusahaan. Nantinya, panenan yang dimiliki perusahaan untuk pembibitan. Lebih lanjut dikatakan, lahan potensial bercocok tanam bawang putih selain di desanya juga di Kecamatan Tawangmangu, Jenawi dan Jatiyoso. "Panenan di gudang ada 60 ton. Sudah dibeli semua oleh CV Berkat Putih Abad. Kita jadi bersemangat menanam lagii," katanya. 

Anggota Poktan Nyawiji Rejeki, Jarwanto mengatakan keuntungannya maksimal. Di lahannya seluas 4 hektare, ia mampu memanen 45 ton. Keuntungan bersih sekitar Rp 7 juta per hektare. Dimulai menanam April, kelompok tani ini memanen pada Agustus. Ia mengatakan, waktu menanam tiap kelompok tani mitra tidak sama. Hal itu disebabkan dropping benih juga tak serentak. (Lim)

BERITA REKOMENDASI