2019, Pemkot Solo Tarik Perempuan Petugas Sampah

SOLO, KRJOGJA.com – Memasuki tahun 2019, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menarik seluruh perempuan petugas penarik gerobag sampah dari kerja lapangan, dan dialihkan ke kantor kelurahan. Kebijakan ini bukan berarti mendeskreditkan kaum perempuan pada jenis pekerjaan tertentu, namun sebaliknya, justru melindungi mereka dari tugas-tugas berat, terlebih sebagian perempuan penarik gerobag sampah tersebut telah berusia lanjut.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menjawab wartawan, di Balaikota, Rabu (2/1/2018), mengungkapkan, keberadaan perempuan sebagai petugas penarik gerobag sampah sebenarnya sah-sah saja. Hanya saja orang nomor satu di Solo ini merasa miris ketika melihat ibu-ibu berusia lanjut tiap hari harus berjuang keras memungut sampah dari rumah ke rumah, lalu mengangkut dengan gerobag sampai pada titik pengangkutan, sehingga perlu dicarikan upaya lain sebagai bentuk penghormatan kepada kaum ibu.

Salah satu solusi yang ditempuh, jelas pria yang akrab disapa Rudy, memindahtugaskan perempuan penarik gerbag sampah ke kantor kelurahan dengan bidang tugas sesuai kemampuan masing-masing. "Bisa saja mereka ditugaskan sebagai petugas kebersihan kantor kelurahan yang relatif lebih ringan dibanding tugas lama, atau bisa juga diberikan jenis pekerjaan lain sesuai kebutuhan masing-masing kelurahan," ujarnya.

Pada prinsipnya, pada tahun 2019 ini, tidak ada lagi perempuan menarik gerobag sampah. Sedangkan para petugas panarik gerobag sampah dari dari kalangan pria, diberlakukan sistem absensi finger print, sebab masih ada sejumlah petugas sampah bekerja dua hari sekali. Dengan sistem absensi finger print mereka diwajibkan bekerja sesuai standart setiap hari selama delapan jam, dengan gaji sesuai Upah Minimum Kota (UMK), serta hak gaji ke-13.

Hingga saat ini, jelas Rudy, Solo masih menghadapi persoalan sampah, kendati sejak beberapa tahun lalu telah diberlakukan sistem baru pengangkutan sampah dengan menghilangkan Tempat pembuangan sementara (TPS) yang dinilai mengganggu keindahan. Setiap hari, sampah rumah tangga dipungut petugas sampah dari rumah ke rumah, lalu saat itu juga ditransfer ke armada mobil sampah selanjutnya dibuang ke Tempat pembuangan Akhir Sampah (TPA) Putri Cempo. Jika petugas pemungut sampah dari rumah ke rumah bekerja hanya dua kali sehari, berarti menyisakan sampah di rumah-rumah warga yang berpotensi menjadi sumber penyakit, selain pula pencemaran.

Persoalan lain yang dihadapi, kondisi TPA Putri Cempo saat ini sudah penuh. Karenanya dia berharap, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang saat ini memasuki tahap persiapan konsktruksi, pada saatnya nanti mampu menyelesaikan persoalan sampah, baik sampah baru maupun tumpukan sampah lama di TPA Putri Cempo.(Hut)

BERITA REKOMENDASI