228 Kasus Cikungunya dan 36 DBD Muncul di Karanganyar

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar mencatat 228 kasus cikungunya dan 36 kasus demam berdarah selama Januari-Maret 2021. Berdasarkan data tersebut, kasusnya cukup memprihatinkan.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Karanganyar, Sri Winarno mendapati dua penyakit akibat gigitan nyamuk itu masih saja muncul di sepanjang musim penghujan. Dibanding DBD, jumlah kasus cikungunya jauh lebih banyak. Meski demikian, jumlah kasusnya masih di level rata-rata. Itu jika dibandingkan data akumulasi sepanjang tahun.

“Ini masih di triwulan pertama tahun 2021. Jumlah itu di tingkat kabupaten memang rendah. Tapi kalau diteliti pada tingkat kecamatan, ada kasus endemis di Gondangrejo,” kata Sri Winarno, Jumat (02/04/2021).

Di Gondangrejo yang berwilayah perbatasan dengan Kota Solo, terjadi 12 kasus DBD. Ini merupakan kasus tertinggi di Karanganyar selama 12 pekan terakhir. Sedangkan kasus terendah di Matesih sebanyak 1 kasus.

Ia mengatakan, endemis kasus DBD di Gondangrejo bukan hal baru. Wilayah ini menyumbang mayoritas kasus tiap tahun, selain juga Tasikmadu, Karanganyar Kota, Jaten dan Colomadu.

“DBD ditangani 11 puskesmas. Sejauh ini 10 puskesmas lainnya tidak menangani karena kasusnya nihil. Untuk sementara,” katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar, Warsito, menuturkan laporan kasus chikungunya pada awal tahun ini terjadi di Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Tasikmadu. Berdasarkan data pekan 1-12, penyakit itu ditemukan 94 kasus di Kecamatan Karanganyar Kota. “Akumulasi sampai Maret, paling banyak di kota. Lalu di Tasikmadu 44 kasus Cikungunya,” ujar Warsito.

Di wilayah endemis, DKK melakukan pengasapan atau fogging. Petugas juga melakukan penyelidikan epidrmologi di wilayah itu. (Lim)

BERITA REKOMENDASI