35 Ribu Warga Karanganyar Tertahan di Jakarta

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Paguyuban warga Karanganyar (Pagaranyar) yang merantau di Jakarta dan sekitarnya kebingungan menyikapi penerapan pembatasan sosial skala besar (PSBB). Selain bakal menyulitkannya mencari nafkah di Ibu Kota, mereka juga ditolak pulang kampung.

Ketua Paguyuban Warga Karanganyar (Pagaranyar) sekaligus Forum Komunikasi Komunitas Karanganyar Bersatu (FK3B) Sukirdi Suryo mengatakan terdapat 35 ribu warga Kabupaten Karanganyar merantau di Jabodetabek. PSBB yang diberlakukan di Jakarta dan sejumlah daerah di Jabodetabek dipastikan bakal mematikan mata pencahariannya.

Untuk bisa kembali ke kampung halaman juga bukan persoalan mudah. Sebab, belum tentu mereka tak terpapar Covid-19. Lagipula, kepulangannya juga ditolak.

“SOP PSBB ini bagaimana, kami juga belum begitu paham. Apakah boleh pulang kampung? Kalau boleh dengan syarat surat sehat atau bagaimana? Mata pencaharian kami di Ibu Kota. Menjadi buruh dan jual di warung makan. Kalau PSBB diberlakukan, kami mau kerja apa?” kata Koordinator Pagaranyar Sukirdi Suryo, Sabtu (12/09/2020).

Penting diketahui, Pemprov DKI memberlakukan kembali PSBB yang diperketat ini mulai 14 September 2020 dan belum diketahui kapan berakhirnya. Lebih lanjut Sukirdi mengatakan, terdapat beberapa komunitas warga Karanganyar yang merantau di Ibu Kota dalam wadah Forum Komunikasi Komunitas Karanganyar Bersatu (FK3B), tercatat 35 ribu anggota yang tersebar di Jabodetabek.

Pada lebaran tahun ini, hanya 10-20 persen saja berhasil pulang kampung. Meski lolos penyekatan, mereka harus isolasi mandiri di kampung halaman selama 14 hari. “Arahan seperti apa dari pemerintah, saya imbau dituruti saja. Jangan mudik dulu karena Pemkab Karanganyar juga memberlakukan ketat prokes,” katanya.

Sementara itu Bupati Karanganyar Juliyatmono meminta para perantau di wilayah PSBB jangan dulu pulang. “Saya minta camat dan lurah menghimbau warganya untuk tidak pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Di sana PSBB diterapkan lebih ketat,” katanya.

Ia menyadari dampak PSBB bagi perekonomian sangat dirasakan kurang menguntungkan bagi para perantau. Warga Karanganyar yang mengadu nasib di wilayah Jabodetabek merupakan pelaku UKM seperti pedagang kuliner dan buruh. Pemberlakuan PSBB di tanah rantau bakal mematikan usaha tersebut. (Lim)

BERITA REKOMENDASI