9 Panitia Diksar UII di DO, Polres Bantah Intervensi

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak menyatakan, pencabutan status mahasiswa sembilan panitia diksar ke-37 the great camping (TGC) mapala UII Yogyakarta di luar intervensinya.

“UII memiliki tim pencari fakta (TPF) tentang tragedi diksar mapala. Itu (sembilan panitia di-drop out) keputusan dari pihak kampus dengan pertimbangan tertentu. Polisi tidak ikut campur dengan keputusan itu,” kata Kapolres kepada wartawan di ruangannya, Rabu (8/2).  

Pada prinsipnya, pencabutan status mahasiswa sembilan panitia diksar tidak berpengaruh terhadap proses penyidikan kasus dugaan kekerasan yang mengakibatkan tiga korban meninggal dunia. Kapolres menyiratkan tahu identitas sembilan panitia itu, namun enggan menyebutnya gamblang. 
Hanya saja, ia tak menampik membidik tersangka baru kasus tersebut dari orang-orang yang terlibat dalam kegiatan di Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu pada Januari 2017. Sejauh ini dua tersangka ditetapkan, yakni Yud dan Ang.

Guna keperluan itu, ia memerlukan bukti selain kaitan tindak pidana terhadap tiga korban tewas. Kapolres menyebut, bukti itu berupa hasil visum et repertum (VER) dari RS JIH Yogyakarta terkait luka 14 peserta diksar yang dirawat di sana.

“Kita melayangkan permintaan hasil VER luka 14 pasien yang dirawat di JIH. Nanti akan didalami dengan keterangan saksi. Ada tidaknya tersangka lain, akan didapatkan dari hasil pendalamannya,” jelas Kapolres.

Ia memastikan penyidik melakukan akselerasi pengungkapan kasus itu tanpa mengesampingkan potensi tersangka selain Yud dan Ang. Salah satunya menelisik enam alat elektronik milik panitia diksar dan inventaris mapala hasil sitaan penyidik pekan lalu. Enam barang itu tiga unit kamera, CPU, laptop dan hardisk.  

Sementara itu Kasatreskrim Polres Karanganyar, AKP Rohmat Ashari mengatakan penahanan Yud dan Ang diperpanjang 40 hari setelah masa penahanan pertama selama 20 hari berakhir. Keduanya diringkus paksa pada Senin (30/1).

“Surat perpanjangan penahanannya sudah dilayangkan ke jaksa. Langkah ini dilakukan penyidik untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan dan penyusunan berkas kasus. Terlebih dalam kasus ini, tersangka dijerat ancaman hukuman lebih dari 7 tahun penjara,” kata Kasatreskrim. 

Dua tersangka ini dijerat pasal 170 ayat 2 ke 2 e dan ke 3 e KUHP. Dalam ayat 2 ke dua berbunyi perbuatan kekerasan secara bersama-sama di muka umum hingga menyebabkan korban luka berat. (R-10) 

BERITA REKOMENDASI