Ada Di 2 Kubu, Alumni PMII Tetap Solid

SOLO, KRJOGJA.com – Kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah 73 tahun harusnya mulai mampu membentuk watak dan karakter yang kuat. Watak dan karakter bangsa dapat tercermin tidak hanya dalam kebijakan, orientasi pembangunan atau menjadi ranahnya pemerintah tetapi sudah selayaknya menjadi ruh hidup seluruh masyarakatnya.

Tidak hanya dalam pergaulan sehari-hari tetapi juga dalam kehidupan politik, sosial, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Demikian dikatakan Sekjen Ikatan Alumni  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII ) Surakarta Nino Histiraludin,  saat diskusi "Mengembalikan Jati Diri Bangsa Sebagai Bagian Kehidupan  Bernegara" di hotel Sahid Jaya, Solo, Sabtu (17/11/2018).

Nino menegaskan eskalasi ketegangan masyarakat meningkat sewaktu ada gelaran Pilkada, Pileg ataupun Pilpres. Hal itu menggambarkan bahwa watak dan karakter bangsa yang adiluhung mulai terkikis. Hal itu terbukti masih adanya kejadian intoleransi, ketidakadilan,pemenuhan hak-hak dasar manusia dan lain sebagainya. "Kami, IKA PMII memandang perlu ada gerakan bersama, pengorbanan bersama, atau untuk saling mengingatkan bahwa apapun perbedaan politik, kita ini masih keluarga besar Indonesia. Kemajuan teknologi sudah selayaknya menjadi alat yang memudahkan kita mencapai tujuan berbangsa dan bernegara bukan malah saling menghancurkan." paparnya.

Pun demikian pula dengan arus informasi yang tersebar baik melalui media massa, pesan berantai, aplikasi, media elektronik dan lain sebagainya.  Indonesia, menurutnya  merupakan bangsa yang besar, bangsa yang beradab, bangsa yang kokoh berjuang dan menghargai perbedaan. Serta bangsa yang sedang memperjuangkan cita-citanya  mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Bukan malah sebaliknya, saling fitnah, adu domba, caci maki, atau segala aktivitas yang dapat meruntuhkan rasa kebangsaan kita.

Maka dari itu, menjelang dilaksanakannya pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden pada April 2019, IKA PMII Solo menyatakan sikap:

1.mengajak elemen bangsa khususnya elit partai, aktivis prodemokrasi, tokoh masyarakat, tokoh agama untuk bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan. Meletakkan semangat perbedaan sebagai nilai positif dalam memajukan bangsa .

2.Pileg dan Pilpres adalah siklus lima tahunan yang sudah kita jalani selama 70 tahun dan seharusnya  membuat kita bertambah dewasa. Memenangkan partai atau capres hendaknya bukan menjadi tujuan melainkan alat untuk mensejahterakan masyarakat.

3.Mewaspadai kelompok-kelompok yang memiliki motif memecah belah, mengadu domba, menyebar fitnah dengan melemparkan isu yang validitasnya diragukan. Termasuk didalamnya berhati-hati dalam menerima informasi sebab penyebar hoax yang  makin lihai dalam membungkus informasi dan disebarkan melalui berbagai media termasuk di dalamnya media sosial atau aplikasi percakapan.

4.Meminta media massa baik cetak atau elektronik tetap idependen dalam menerbitkan informasi, menjunjung tinggi prinsip verifikasi informasi serta cover boothside. Sehingga media mampu berperan dalam upaya mereduksi perpecahan bangsa.

5.mengajak masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang diterima terutama informasi yang menyesatkan, memiliki motif ekonomi maupun politik serta menahan diri untuk tidak menjadi bagian penyebarluasan informasi tersebut.

Menyinggung keberadaan alumni PMII,Nino Histiraludin mengatakan kini para alumni berada di dua kubu, baik kubu Jokowi- Makruf Amin maupun kubu Prabowo-Sandiaga Uno. "Meski berada di dua kubu IKA PMII tetap solid, mengutamakan NKRI serta mencegah merembetnya paham Islam radikal,"paparnya. (Hwa)

 

BERITA REKOMENDASI