Alami Kecelakaan Kerja, Difabel Berkesempatan Bekerja Lagi

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Memiliki fisik tak lengkap bukan alasan pembenar untuk berpangku tangan. Masih tersedia peluang berharga bagi kalangan berkebutuhan khusus, apabila tetap semangat berkarya.

Kisah hidup pemuda asal Tlobo, Delanggu, Klaten bernama Tri Marjanto (26) bisa menjadi inspirasi bagi kalangan berkebutuhan khusus. Menjelang dirinya duduk di pelaminan, Tuhan memberinya cobaan. Sepeda motor yang dikendarainya pulang dari tempat kerja pabrik Sritex Sukoharjo ke rumah menghantam traktor di wilayah Serenan, Klaten, Selasa (21/6/2016) pukul 23.00 WIB. Saking parahnya kondisi Tri sampai dirinya tak sadarkan diri selama sepekan. Bagi pemuda ini, dunia seakan runtuh mendapati kaki kirinya diamputasi, tak lama setelah siuman.

Ditemui wartawan di pabrik pembuatan kaki palsu PT Kuspito di Papahan Karanganyar, Tri tampak gugup saat mengetahui dirinya sudah dinanti jajaran HRD PT Sritex Garment dan manajemen BPJS Ketenagakerjaan Surakarta. Ini merupakan kali pertama Tri menjajal kaki palsu yang akan membuatnya seakan normal berjalan. Butuh waktu beberapa lama kerangka kaki palsu dipasang ke pahanya kemudian disesuaikan sampai Tri benar-benar merasa nyaman. Sesungging senyum membuncah di wajahnya usai menjajal alat bantu itu, tanda harapannya bersambut. Beberapa orang dari HRD PT Sritex dan BPJS Ketenagakerjaan juga menunjukkan ekspresi serupa.

“Ini salah satu program return to work yang dijalankan BPJS Ketenagakerjaan sejak Juni 2015. Pendampingan kami lakukan sejak terjadi kecelakaan, masa perawatan dan pemulihan sampai bisa mandiri bekerja lagi ke perusahaan,” kata Dian Kusuma, Penata Madya Layanan BPJS Ketenagakerjaan Surakarta.

Dian menyadari aktivitas Tri di PT Sritex tidak akan seperti dulu. Namun ia akan memastikan Tri tetap berkontribusi di perusahaan garment itu meski di bidang kerja lain.

Manager HRD PT Sritex Garment, Sri Saptono Basuki mengaku kagum dengan semangat kebangkitan lagi pegawainya, Tri. Perusahaan membuka kesempatannya bekerja lagi di bidang yang sama.

“Haknya utuh selama cuti pascakecelakaan. Begitu pula nanti waktu masuk kembali, bidang kerja teknisi membutuhkan keahliannya. Bukan berarti upahnya turun karena keterbatasan fisik, karena sistem penggajian disesuaikan kompetensi, skill dan etos kerja. Tri benar-benar bersemangat kerja lagi,” jelasnya.

Di PT Sritex, Tri bukan satu-satunya pegawai kalangan difaber. Sesuai ketentuan, perusahaan ini mempekerjakan minimal 1 persen kalangan difabel dari total pegawai. (R-10)

 

BERITA REKOMENDASI