Ampyang Kini Naik Kelas

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Dari tangan warga Suruhkalang Jaten, Ariyanto, penyajian ampyang makin berkelas. Makanan ringan berbahan baku kacang dan gula Jawa hasil racikannya menjadi teman ngopi di kafe milenial. Dari sebelumnya hanya dijual di pasar tradisional, makanan bercitarasa jahe yang dilabeli Grompyang merambah pasar segmen khusus.

Ariyanto kepada KRJOGJA.com menunjukkan proses produksi Groempyang. Bahan bakunya kacang tanah, jahe, gula jawa dan gula pasir. Untuk membuat ampyang original, kacang yang sudah dibersihkan dan dikeringkan kemudian dimasak dengan jahe yang sudah dihaluskan. Langkah selanjutnya mendinginkannya usai dicetak bundar-bundar kecil.

“Sebenarnya membikin grompyang tak ubahnya seperti ampyang pada umumnya. Hanya saja saya membuat variasi rasa. Untuk merambah ke pasar segmen khusus terutama ke kafe, butuh pendekatan dan proses yang tidak sederhana. Kuncinya ketekunan,” katanya.

Groempyang dikemas ukuran 250 gram, 350 gram dan 1 kg dengan kemasan toples dan ziplock. Pemasarannnya dari semula dropship hingga ke marketplace. Ia mengatakan harga Groempyang memang lebih mahal dibanding ampyang di pasar yang dijual per kilogram. Dengan kemasan eklusif dan penyajiannya di warung milenial, ia meyakini harganya pantas.

Pedagang ampyang di pasar paling ambil untung Rp1.000-Rp3.000 per kilogram. Tapi Grompyang ambil untung lebih. “Untuk ongkos produksi Rp 20.000-Rp 30.000, saya jual Rp 35.000,” katanya.

Ia menceritakan kisahnya berwirausaha yang dimulai usai mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Pria ini memilih berjualan makanan camilan. Berbekal pengalaman, ia mulai melakoni usaha ini sejak April 2019. Selama beberapa bulan hingga Januari 2020, penjualan Groempyang terhitung menguntungkan. Omzet bisa mencapai Rp 10 juta per bulan. Untuk ukuran UKM pemula, angka tersebut cukup bagus.

Sayangnya pandemi Covid-19 memukul mundur bisnis UKM termasuk Groempyang. Dari semula mempekerjakan enam orang, kini hanya dua saja. Di masa pemulihan, ia mulai bangkit dan menjajaki berbagai kemungkinan. Di paket pesanan diisi pula berbagai produk UKM selain Groempyang, bikinan para tetangganya. Kiriman tertuju berbagai wilayah di Indonesia seperti Sulawesi, Jabodetabek dan Surabaya.

Ariyanto mengatakan ampyang tetap diminati. Apalagi citarasanya pas dipadukan dengan minum kopi. Selain itu, ampyang unik dari citarasa dan kearifan lokal.

“Groempyang ada di warung kopi milenial. Sambil minum kopi lalu memakan ampyang. Rasa kopinya lebih nendang. Pernah ada yang memesan asal Birmingham Inggris. Hanya saja saya belum punya modal mengirim. Ongkosnya mahal,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI