Andrik Purwasito Manfaatkan Peralatan Dapur untuk Melukis

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Lukisan Eyes Inside karya Prof DR Andrik Purwasito tak hanya mengkritisi pandangan masyarakat atas segala sesuatu terkait pandemi Covid-19. Namun juga menggebrak cara-cara umumnya berseni rupa yang ternyata mengekang ekspresi diri. Padahal bahan-bahan berkarya tersedia di depan mata.

“Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita berada di dalam rumah, tak boleh memutus karya inovatif dan kreativitas. Tanpa harus kemana-mana, sangat bisa berkarya. Misalnya kitchen painting ini,” kata Andrik kepada wartawan di sanggar seni ‘Wong Kampoeng Contemporary, Desa Triyagan, Mojolaban, Kamis malam (14/08/2020).

Bukan umumnya peralatan lukis yang disiapkannya untuk menciptakan Eyes Inside. Namun ia membawa perkakas dapur seperti garpu, sendok, centong, sotil, sikat pembersih botol dan sikat cuci baju, dan sebagainya.

Alat dapur itu dipakainya untuk menorehkan cat minyak ke bidang kanvas. Ternyata, goresan peralatan itu membentuk pola unik dan indah. Ia memadupadankan warna dan corak hingga dirasa seimbang.

Sotil dipakainya menebalkan dan menipiskan cat di kanvas sakan meramu menu masakan di dapur, Andrik tak lupa memakai celemeknya saat melukis. Ia menambahkan, kreasi dari kitchen painting yang membedakan dari metode lukis konvensional terletak pada tekstur yang dihasilkan.

“Ratusan bahkan ribuan teknik melukis telah dipakai banyak seniman di seluruh dunia dengan hasil yang juga sangat bervariatif. Setiap seniman ingin menampilkan citra dirinya melalui karya-karyanya. Kitchen painting diharapkan menjadi alternatif. Mengurangi ketergantungan seniman terhadap penggunaan peralatan pada umumnya,” katanya usai melukis berdurasi 1,5 jam.

Eyes inside digambarkan dengan beberapa pasang mata sedang terbuka seakan mengamati tajam obyek di depannya. Indera penglihatan itu berada di wajah yang tak terlalu diperjelas alias samar.

“Makna filosofinya harus berhati-hati di tengah pandemi global. Harus serius mengamati keadaan,” katanya mengkritisi seni temporernya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI