Angkuta Jadi Feeder, 41 Armada Baru Siap Beroperasi

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Angkutan Kota (Angkuta) warna kuning mulai difungsikan sebagai 'feeder' Batik Solo Trans (BST), menyusul peremajaan armada yang akhir tahun ini merampungkan 41 unit dari sekitar 300 unit yang direncanakan. Tahap awal, armada 'feeder' hasil peremajaan yang dibiayai pemerintah pusat serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)  tersebut, dioperasikan pada koridor 5 dan 6.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), Yosca Herman Sudrajat, menjawab wartawan, di Balaikota, Selasa (20/2), mengungkapkan, 41 armada mikro bus untuk armada feeder

, saat ini memasuki tahap pengiriman dari perusahaan karoseri, bersama 7 unit bus berukuran sedang yang akan digunakan untuk memperkuat armada BST. Seharusnya, armada baru itu sudah dapat dioperasikan pada akhir tahun ini, hanya saja karena terjadi keterlambatan proses pengadaan, terpaksa ditunda hingga Januari 2017 depan.

Pengadaan armada baru BST maupun feeder

, tambah Yosca, sesuai aturan harus melalui e-Katalog. Hanya saja, hingga beberapa bulan menjelang akhir tahun anggaran, spesifikasi armada transportasi umum perkotaan belum juga muncul dalam e-Katalog, sehingga Dishubkominfo menempuh cara lain, pengadaan armada dilakukan melalui mekanisme lelang. Ini sebagai alternatif terbaik, sebab jika harus menunggu e-Katalog, kemungkinan besar pengadaan armada melampaui akhir tahun anggaran, dan berdampak pada sanksi administratif anggaran, atau bahkan dana yang disiapkan dikembalikan ke kas negara.

Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan penolakan dari kalangan kru Angkuta terkait perubahan fungsi dan jalur dengan sistem koridor, Yosca menjelaskan, proses sosialisasi sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Hampir seluruh kepemilikan armada Angkuta warna kuning, memang bersifat pribadi dengan jumlah armada sebagian besar tak lebih dari dua unit, namun mereka saat ini sudah tergabung dalam dua koperasi yang nantinya berperan sebagai operator sebagaimana operasional BST.

Penolakan sudah terjadi saat rencana memfungsikan Angkuta sebagai feeder

serta perubahan jalur disosialisasikan kepada pemilik Angkuta, jelasnya, namun semua terselesaikan dengan terbentuknya dua koperasi sebagai operator. "Perlu waktu sekitar dua tahun untuk meyakinkan para kru Angkuta, hingga akhir secara bergelombang pemilik armada bersedia bergabung ke dalam koperasi." jelasnya sembari menyebut, sesuai aturan main, operasional serta izin trayek transportasi umum harus ditangani sebuah lembaga, bisa berupa Perseroan Terbatas (PT), koperasi, atau yang lain.

Sistem transportasi umum perkotaan, menurut Yosca, telah didesain dalam dua bagian besar, masing-masing untuk jalur jalan besar, dilayani BST, sedangkan jalur yang menghubungkan jalan raya dengan perkampungan di seluruh penjuru kota, dilayani Angkuta sebagai 'feeder' dengan model koridor. Dengan begitu, tak ada lagi titik-titik persinggungan jalur trayek, yang kadang menimbulkan persoalan, diantaranya perebutan penumpang. (Hut)

BERITA REKOMENDASI