Antisipasi Suap, Tamu Walikota Solo Dilarang Bawa Tas

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo melarang para tamu, baik di kantor maupun rumah membawa tas, sebagai antisipasi kemungkinan jebakan suap yang berujung pada Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jika para tamu kebetulan membawa tas dalam bentuk apapun, termasuk tas kresek, dipersilakan menitipkan pada staf di ruang tunggu, atau dimasukkan dalam locker yang telah disiapkan.

Menjawab wartawan di Loji Gandrung, Senin (25/9), Walikota FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan, dari sekian banyak kolega, dipastikan memiliki perasaan kurang suka dengan dirinya. Kondisi psikologis semacam itu, bisa saja memicu niat-niat buruk dengan membuat jebakan suap atau sejenisnya yang memungkinkan berujung pada OTT KPK. "Bukannya tidak percaya pada para tamu, tetapi lebih sebagai sikap hati-hati terhadap berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi," ujar pria bersapaan akrab Rudy.

Bertahun-tahun mengabdikan diri kepada warga Solo, baik semasa menjadi Wakil Walikota maupun Walikota selama dua periode, tambahnya, dia berkomitmen penuh memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat dan menjauhkan diri dari korupsi. Jika kemudian komitmen yang dipegang teguh itu kemudian runtuh hanya akibat jebakan suap, rasa malu akan ditanggung sepanjang hidup, bukan saja bagi diri pribadi, tetapi juga anak cucu.

Menjawab pertanyaan kemungkinan jebakan suap dilakukan melalui cek sehingga cukup disimpan dalam kantong baju atau celana, Rudy mengungkapkan, kemungkinan tersebut relatif kecil, sebab pengungkapan suap melalui transkasi perbankan jauh lebih mudah ketimbang dalam bentuk uang tunai. Karenanya, hal paling rasional untuk mengantisipasi jebakan suap, dengan melarang para tamu membawa tas. Apalagi tas tersebut berisi uang, bisa menimbulkan persepsi lain, atau memang sengaja sebagai bahan jebakan, padahal sebenarnya tidak bersangkut paut dengan keperluan saat bertamu.

Perihal larangan tamu membawa tas, telah diinformasikan kepada staf baik di kantor maupun keluarga di rumah, agar melakukan 'screening' dengan meminta tamu untuk menitipkan tas di ruang staf ataupun menyimpan di dalam locker. Atau jika tas tersebut tak berisi barang-barang berharga, lebih baik ditinggalkan di dalam mobil. "Yang penting, saat bertemu dalam satu ruang, tidak ada tas," ujarnya.

Rudy juga meminta kepada kalangan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, seperti Wakil Walikota, Sekretaris Daerah, kepala dinas, dan sebagainya, untuk melakukan hal serupa, dan rencananya akan diperkuat dengan menerbitkan surat edaran. Sikap hati-hati jauh lebih baik, ujarnya, kendati dalam kinerja keseharian telah mengikuti ketentuan yang berlaku, serta menjauhkan diri dari tindak pidana korupsi. (Hut)

BERITA REKOMENDASI