Aparat Sipil Negara Dilarang Gunakan Elpiji 3 Kg

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Konsumsi elpiji ukuran tiga kilogram atau tabung melon di semua kalangan memicu kelangkaan barang bersubsidi itu. Untuk mengurangi faktor tersebut, sekitar 11 ribu aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Karanganyar dilarang ikut-ikutan membeli tabung melon.

Hal itu ditegaskan Bupati Karanganyar Juliyatmono melalui surat edaran nomor 541/55.12.1.4 tanggal 12 September 2017 tentang penggunaan LPG 3 kilogram. Surat edaran tertuju seluruh kepala OPD, camat, lurah dan kades itu berisi imbauan agar tidak menggunakan tabung melon karena itu hanya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau di bawah Rp 1,5 juta per bulan.

“Surat edarannya bersifat imbauan ke ASN. Diharapkan bisa berlaku menyeluruh setelah diedarkan sampai ke desa, RT dan RW,” kata Kepala Bagian Perekonomian Setda Pemkab Karanganyar, Budi Supriyono kepada KRJOGJA.com, Rabu (13/09/2017).

Penerbitan surat edaran didasari problem distribusi barang subsidi itu. Pengembalian pasokan tabung melon ke jatah normal oleh Pertamina menyebabkan berkurangnya alokasi harian ke pangkalan. Akibatnya, beberapa daerah di perbatasan mengalami kelangkaan. Jika 11 ribu ASN masih saja ikut-ikutan menikmati subsidi, dikhawatirkan persoalan serupa terus terjadi.

“Seperti di Colomadu, Gondangrejo dan Jaten. Elpiji 3 kilo di daerah itu sering kosong karena warga di kota/kabupaten di perbatasan berebut barang. Itu masih bebas diperjualbelikan tanpa mengenal pembatasan,” katanya.

Opsi penggunaan kartu kendali pembelian elpiji melon belum bisa dilakukan. Budi berdalih belum menerima petunjuk pelaksanaan dan teknisnya dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Inisiatif daerah juga membutuhkan petunjuk langsung dari bupati. “Kami ini hanya pelaksana. Selama belum ada perintah juga tidak berani memutuskan,” katanya.

Berdasarkan pengamatannya, belum dilaporkan kelangkaan elpiji di Karanganyar. Meski begitu, ia menyarankan pangkalan dan agen melalui Hiswana Migas tak segan memberi rekomendasi ke Pemkab supaya meminta tambahan alokasi ke Pertamina apabila kondisinya kritis.

Pengecer elpiji di karangpandan, Ade Irawan mengatakan makin sukar menyetok elpiji melon. Ia berulangkali meminta konsumennya langsung membeli ke pangkalan.

“Kosong terus. Misalnya dapat, langsung habis karena sudah dipesan tetangga. Saya menyarankan langsung membeli saja ke pangkalan,” kata Ade.

Senada dikatakan pengecer asal Colomadu, Ari Purnomo. Dari sebelumnya dijatah 50 tabung per pekan, sekarang dikurangi menjadi 30 tabung saja.

“Sampai sekarang pasokannya belum normal. Tiap hari di depan rumah saya sudah berjejer tabung kosong antrean dari tetangga. Saya sampai tidak enak hati menolak,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI