Area Rawan Longsor, Dibentuk 4 Desa Tangguh Bencana

KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mendampingi pembentukan empat desa tangguh bencana (Destana). Di empat desa yang memiliki riwayat bencana tanah longsor itu, semua pihak diedukasi pencegahan jatuh korban jiwa jika longsor menerjang. 

"Empat desa itu usulan BPBD Karanganyar supaya diberi kegiatan mitigasi dan pembentukan sukarelawan berikut edukasi terhadap mereka," kata Sekretaris BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno kepada wartawan.

Empat desa yang dimaksud adalah Gerdu dan Karangpandan di Kecamatan Karangpandan serta Gempolan dan Plosorejo di Kecamatan Kerjo. Selama lima hari, Senin-Jumat (16-20/9) Destana di Desa Gerdu dan Karangpandan diisi pengukuhan forum pengurangan risiko bencana (FPRB), pembuatan peta geografis dan demografis rawan bencana serta pengukuhan sister village. Juga terdapat 20 indikator yang dipelajari dalam forum tersebut.

"Di Desa Gerdu, salah satu konsentrasinya di Dusun Buntung yang rawan longsor. Memiliki riwayat memilukan terkait bencana. Nah, mereka sudah memiliki sukarelawan, tinggal mengukuhkan. Juga ada Desa Salam yang dijadikan sister village. Itu wilayah terdekat yang paling aman dipakai mengungsi," katanya. 

Kegiatan Destana di dua desa ini difasilitasi BPBD Provinsi Jawa Tengah. Keterlibatan pemerintah desa sangat dibutuhkan, utamanya menyediakan dana di APBDes untuk keperluan mitigasi. 

"Harapannya, masyarakat dapat mandiri menyelamatkan diri jika menghadapi bencana. Tahu betul apa yang harus dilakukan. Relawan yang notabene warga setempat juga cekatan melakukam tugasnya," katanya. 

Kepala Seksi ( Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Karanganyar, Hartoko menambahkan, pembentukan Destana di Kerjo difasilitasi BPBD Kabupaten Karanganyar. Ia menyadari pendampingannya butuh keseriusan semua pihak. 

"Anggaran kegiatan Destana Rp 30 juta saja per desa. Relatif sedikit. Namun kita menggugah keikutsertaan semuanya peduli bencana alam," katanya.

Sejauh ini, peralatan deteksi dini di lokasi rawan bencana tanah longsor kurang efektif. Bahkan oleh warga, alat itu sengaja dinonaktifkan karena dianggap mengganggu. Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten telah merelokasi sebagaian warga Plosorejo akibat longsor beberapa tahun lalu. (Lim)
 

BERITA REKOMENDASI