Atasi Bencana Kekeringan, Teknologi Memanen Air Hujan Diperkenalkan

SOLO, KRJOGJA.COM – Balai Penelitian Pengembangan  Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS), salah satu unit kerja Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan kajian untuk antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan yang bisa meminimalkan dampak bencana kekeringan di Indonesia. Hasil kajian tersebut berupa teknologi sederhana untuk memanen air hujan, instalasi daur ulang air limbah skala rumah tangga, informasi ilmiah jenis tanaman yang tahan terhadap kekeringan, serta rekomendasi kebijakan untuk mitigasi bencana kekeringan.  

Kepala Balitek DAS Ir R Gunawan Hadi Rachmanto MSi kepada wartawan, Selasa (20/8/2019) di kantornya Jalan Achmad Yani, Solo mengatakan Indonesia merupakan negara yang rawan bencana kekeringan. "Bahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksikan bahwa musim kemarau tahun 2019 lebih kering daripada tahun 2018, yang akan  melanda 28 provinsi dengan luas wilayah 11,774.437 ha dan mengancam 48.491.666 jiwa manusia. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah menginformasikan bahwa ada ada 75 wilayah kabupaten dan kota yang terdampak kekeringan yaitu Jawa Barat 21, Banten 1, Jawa Tengah 21, DI Yogyakarta 2, Jawa Timur 10, Bali 2, NTT 15, dan NTB 9. " papar Ka Balitek DAS didampingi peneliti utama Balitek Ir Purwanto MSi.

Bencana kekeringan di tahun 2019 ini berpotensi menyebabkan defisit ketersediaan air maupun kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah. "Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak dari bencana kekeringan, seperti: 1) mendistribusikan kurang lebih 7.045.400 liter air bersih, 2) pembuatan sumur bor, 3) kampanye hemat air, serta 4) koordinasi dengan pihak-pihak terkait," paparnya.

Selain itu pihak Balitek DAS juga mengajak masyarakat membuat teknologi sederhana pemanenan air hujan bertujuan untuk mengumpulkan dan menyimpan air hujan untuk persediaan di musim kemarau. "Teknologi ini bisa diaplikasikan oleh rumah tangga maupun gotong royong masyarakat. Teknologi sederhana ini berupa bak tampung/sumur tampung, sumur resapan untuk menambah cadangan air bagi sumur konvensional, serta embung.  Umumnya teknologi ini diimplementasikan untuk wilayah yang mempunyai curah hujan relatif tinggi. Sedangkan jenis tanaman yang direkomendasikan untuk wilayah yang berpotensi kekeringan adalah kacang tanah. Selain tahan terhadap kekeringan, harga produk tanaman ini juga cukup stabil dan bisa meningkatkan pendapatan petani," tuturnya.

Instalasi daur ulang air limbah cuci dan mandi skala rumah tangga diharapkan dapat menambah persediaan air bersih di musim kemarau. Untuk meminimalisasikan dampak bencana kekeringan, Balitek DAS juga merekomendasikan pemerintah daerah tidak hanya menetapkan status tanggap darurat, tetapi harus mempunyai master plan yang terencana dan detail untuk periode pendek, menengah maupun panjang.(Hwa)

 

BERITA REKOMENDASI