Atasi Kekeringan, Sragen Siapkan Rp 41 M

Editor: Ivan Aditya

SRAGEN, KRJOGJA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen menganggarkan dana hingga Rp 41,5 miliar untuk pembangunan jaringan air bersih. Anggaran yang akan dimasukkan di Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) 2018 ini sebagai solusi konkrit mengatasi bencana kekeringan tahunan.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati usai melepas armada dropping air dari Komunitas Pedagang Pasar Kota Sragen (KPPKS), Jumat (22/09/2017) mengatakan, program pembangunan jaringan air bersih itu digagas untuk mengatasi kekeringan yang hampir setiap tahun melanda sejumlah kecamatan di Sragen. Rencananya, dana sebesar itu akan dipakai membuat jaringan baru untuk tiga kecamatan masing-masing Jenar, Tangen dan Miri.

Untuk Kecamatan Jenar, jelas Yuni akan dibuat sumur air dalam untuk 1500 sambungan rumah di Desa Dawung, Mlale dan Japoh. Sementara di Kecamatan Tangen, Desa Katelan dan Dukuh akan terlayani 2000 sambungan rumah. Kecamatan Miri, akan dibuat sumbar air dalam dan pemanfaatan air permukaan Waduk Kedung Ombo (WKO), melayani 2200 sambungan di Desa Doyong, Soko dan Girimargo.

"Kenapa dipilih tiga kecamatan tersebut, karena mengalami kekeringan paling parah. Tiga kecamatan itu juga tidak ada sumber air baku atau air permukaan," ujarnya.

Yuni berharap program ini akan didukung oleh legislatif sehingga pengajuan anggaran di RAPBD bisa disetujui. Program ini adalah solusi konkrit mengatasi kekeringan yang terjadi hampir setiap tahun di Sragen.

"Mudah-mudahan teman-teman dewan bisa mendukung program ini. Selama untuk mengatasi kekeringan, saya yakin dewan akan setuju," jelasnya.

Menurut Yuni, kekeringan yang melanda sejumlah desa tahun ini memang terbantu dengan adanya dropping dari berbagai elemen masyarakat. Kendati bukan solusi konprehensif, namun dropping sangat membantu warga yang menderita kekeringan.

"Terimakasih semua elemen masyarakat yang telah membantu air bersih. Ini merupakan wujud semangat guyup rukung membantu sesama," tandasnya.

Yuni mengakui kekeringan tahun ini tergolong sudah parah meski belum mencapai puncak. Jika sampai Oktober mendatang wilayah Sragen belum diguyur hujan, bisa dipastikan Sragen akan masuk kategori darurat kekeringan. "Saya sudah dilapori BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) kalau Sragen akan masuk darurat kekeringan jika hujan belum turun sampai Oktober nanti," tuturnya. (Sam)

BERITA REKOMENDASI