Audio Visual Disarpus Siap Dukung Transformasi Literasi

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Ruang audio visual senilai Rp841 juta selesai dikerjakan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Karanganyar, Jateng. Pemakaian ruang berkapasitas 49 penonton itu untuk mendukung program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Kepala Disarpus Karanganyar, Sugeng Raharto mengatakan rekanan tepat waktu merampungkan proyek tersebut pada 18 Mei 2021 sejak dimulai pada Februari. Sebuah ruang di lantai satu kantornya berukuran 11X12 meter persegi disulap menjadi ruang audio visual yang didesain mirip studio bioskop. Konten-konten edukatif siap ditayangkan bagi publik. Sumber pembiayaan dari APBD 2021.

“Kabupaten Karanganyar siap mentransformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Penggunaan ruang audio visual ini melengkapi fasilitas perpustakaan yang semula hanya pinjam meminjam buku saja,” kata Sugeng kepada KRJOGJA.com, Jumat (04/06/2021).

Ruang audio visual milik pemerintah daerah ini merupakan yang pertama di Karanganyar. Bahkan salah satu yang terbaik di Jawa Tengah. Pengguna fasilitas bakal merasakan pengalaman menikmati nonton film seperti di bioskop berkedap suara, full AC Tempat duduknya juga didesain sama seperti di bioskop. Hanya saja tanpa tempat menaruh makanan dan minuman.

“Di tempat duduknya ada meja lipat. Memang tidak diperkenankan makan minum di sini karena bukan diperuntukkan seperti itu. Silakan menyaksikan konten audio visual,” katanya.

Sugeng akan berkonsultasi lebih lanjut ke Bupati Juliyatmono terkait pemakaian ruang. Namun secara umum, publik boleh memakainya. Selain itu juga cocok dipakai rapat dinas. “Kapasitas 49 tempat duduk. Di masa pandemi, maksimal separuhnya yang bisa dipakai,” katanya.

Pustakawan Disarpus Karanganyar, Priyanto menambahkan, ruang audio visual tersebut dilengkapi tempat tunggu sebagaimana bioskop. Bedanya, tempat menunggu tidak tersedia foodcourt tapi etalase buku dan koleksi bacaan lainnya.

Ia menyebut selama masa pandemi, Disarpus tetap melayani baca di tempat maupun pinjam dan pengembalian. Hanya saja kunjungan dibatasi 50 persen. “Sehari 70-80 pengunjung. Tapi dibagi beberapa sesi. Tiap sesi maksimal 40 orang,” katanya.

Meski dibatasi, ternyata minat pengunjung tetap bagus. Mereka yang menggunakan layanan Arpusda dari pelajar dan mahasiswa. (Lim)

BERITA REKOMENDASI