Awalnya Buat Miniatur Lokomotif untuk Anak, Anton Seriusi Kerajinan Bambu

BERAWAL dari menghibur si buah hati, Anton Eko Wahyudi (33) mengembangkan bakat membuat kerajinan dari bambu sebagai mata pencaharian berprospek. Miniatur lokomotif uap hingga perkakas rumah tangga dibuatnya secara istimewa dalam corak, warna, ukiran maupun kegunaan.

Sebuah miniatur lokomotif dari bambu hitam menginspirasinya membuat benda-benda estetis lain berbahan sama. “Saya membuat lokomotif kecil dari bambu. Otodidak saja. Melihat dari gambar ponsel dan mengukurnya sendiri. Itu sebenarnya untuk anak saya. Namun banyak yang mengapresiasi dan mendorong agar membuatnya lagi untuk dijual. Terutama netizen yang melihat karya saya di medsos,” kata pria asal Dusun Winong Rt 03/Rw II Desa Pendem Kecamatan Mojogedang,Selasa (5/11).

Berbekal peralatan umumnya menukang seperti bubut kayu, bor dan gerinda, pria ini memulai mengubah bambu-bambu itu menjadi beragam ukuran. Dari potongan itu, dirangkai sesuai keinginan. Ia memilih bambu itu bukan sembarang jenis.

“Kalau ingin membuat sebuah miniatur lokomotif, sebenarnya tidak butuh banyak bahan. Hanya perlu ketelitian soal ukuran dan detil,” katanya.

Untuk dapat membuat miniatur lokomotif, Anton membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Selanjutnya, ia meneruskannya selama delapan bulan terakhir dengan kreasi lebih beragam. Durasi pembuatan disesuaikan tingkat kesulitan.

Saat ini, ia bisa membuat asbak, lampu tidur bermotif ukir, wadah minum, dan miniatur kapal layar. Ia mendapatkan bahan baku berupa bambu hitam tersebut dari kebun miliknya yang ada di samping rumah. Hingga saat ini, lampu hias yang dapat diukir sesuai permintaan konsumen menjadi produk yang banyak diminati.

Lampu hias berbentuk tabung tersebut ada yang diukir motif dan tulisan, tinggi tabung sekitar 30 cm dan berdiameter 8 meter. Harganya berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Adapun satu miniatur lokomotif ia jual seharga Rp 500 ribu.

Produk yang banyak diminati selain lampu hias, yakni wadah rokok, asbak, dan wadah korek gas. Harga kerajianan miliknya berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 500 ribu. Selain memasarkan produknya melaui medsos, ia juga mengikuti beberapa bazar di sekitaran Karanganyar. Sementara ini pemesan berasal dari Karanganyar, Solo dan Ngawi.

Mengawali bisnis UMKM bukan tanpa persoalan. Ia belum bisa memenuhi target pesanan jika dalam jumlah besar karena masih melakukan semuanya sendirian. Selain itu, butuh percobaan berulang kali untuk membuat bentuk baru kerajinan bambu. “Masih belajar hal baru rakitan sendiri,” katanya.

Dari peralatan terbatas, ia mengakui kurang leluasa berkarya. Kurangnya dukungan pemasaran juga menjadi kendala tersendiri. (Abdul Alim)

Baca Selanjutnya : Achmad Zulkarnain, Fotografer Difabel yang Mendunia, Pernah Jatuh dari Tebing

BERITA REKOMENDASI