Batik Tulis Girilayu Diarahkan ke Digital Marketing

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Pelaku usaha di kampung batik tulis Girilayu, Matesih mendapat pendampingan dalam upaya memasarkan produknya secara digital. Berbagai bantuan dari pemerintah dan swasta akan disalurkan ke perajin tersebut.

Bupati Karanganyar Juliyatmono mengatakan hal itu saat launching workshop digital marketing ‘Girilayu Desa Wisata Batik’ di aula Kantor Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

“Saat ini mau makan enggak perlu kemana-mana. Tinggal pesan di aplikasi ponsel. Sudah saatnya pemasaran juga menggunakan cara seperti itu. Jika hanya menunggu pesanan datang dari pelanggan, lama kelamaan pelanggan juga beralih. Jadi, buka kesempatan baru dengan era digital marketing,” katanya di hadapan para perajin batik tulis Girilayu.

Ia meyakini batik tulis Girilayu berkualitas. Sandangan yang terpakai dari bahan tersebut menunjukkan prestise seseorang. Juliyatmono akan berusaha mendatangkan stimulan dari CSR perusahaan maupun pemerintah dalam mengembangkan produksi maupun pemasaran produk UMKM tersebut. Ia mengatakan, sudah saatnya perajin batik membuka usaha sendiri, daripada hanya bergantung pada pesanan.

Kepala BI Perwakilan Solo, Bambang Pramono mengatakan geliat UKM terbukti berhasil menjaga stabilitas keuangan. Dalam kesempatan itu, BI menyerahkan stimulan pembangunan showroom produk batik tulis. Di desa ini terdapat beberapa koperasi yang menaungi usaha para perajin.

“Pelaku ekonomi sebagian besar adalah UMKM. Namun mereka memiliki kendala pada akses pasar, pembiayaan dan penggunaan teknologi. Masa pandemi, pameran terbatas. Teknologi menjadi urgen. Kami memberi panduan supaya pengembangan UMKM terarah. UKM harus berkelompok, berkorporasi supaya mudah di link kan ke perusahaan besar,” kata Bambang.

Showroom batik yang dibangun supaya memudahkan pengunjung melihat lebih dekat proses pembatikan hingga barang jadi. Lokasi showroom cukup strategis karena berdekatan wisata religi Astana Giribangun (AGB) dan Astana Girilayu.

Hadir dalam kesempatan itu diundang Chairman International Council for Small Business (ICSB) Indonesia, Hermawan Kartajaya (HK). Ia yang juga Founder Digital Marketing School Kusbaroto menjelaskan, para pelaku UMKM sering menghadapi 2 masalah, yakni kendala komunikasi dengan pembeli asal mancanegara dan kapasitas produk ketika mendapatkan banyak pesanan.

Hermawan berharap pegiat UMKM tidak sekadar produktif tapi kreatif. Menurutnya, textile and apparel menjadi salah satu yang bisa digali potensinya di pasar digital. Menurutnya, jatuh bangun usaha jangan dijadikan penghalang untuk terus berusaha.

“Terus cari peluang. Jangan patah semangat. Berhenti sebentar lalu gaspol. Bikin banyak kerjasama dan pertemanan,” katanya.

Selama 6 bulan DMS akan memberikan bimbingan gratis tentang marketing digital sehingga ada peningkatan kapasitas usaha batik di Desa Girilayu. (Lim)

BERITA REKOMENDASI