Bau Pengolahan Pakan Ternak Mengganggu, Warga Gajahmungkur Protes

WONOGIRI, KRJOGJA.com – Sejumlah wisatawan Waduk Gajahmungkur (WGM) Sendang Wonogiri maupun warga sekitar obwis itu mengeluhkan munculnya bau tak enak yang belakangan ini mencemari lingkungan mereka. Aroma kurang sedap yang menyengat tersebut diduga berasal dari tempat usaha produksi pakan ternak dengan memanfaatkan bangkai nila yang jumlahnya ribuan ekor sebagai bahan baku.

Tak hanya pengunjung obwis maupun warga Dawe Kecamatan Wuryantoro dan Desa Sendang Kecamatan Wonogiri yang terganggu, kalangan pengusaha rumah makan dan warung makan di sekitar WGM Wonogiri juga kena dampaknya. "Selera makan langsung hilang begitu tiba-tiba tercium bau bangkai ikan tertiup angin," ungkap salah seorang penduduk Desa Sendang kepada KRJOGJA.com, Sabtu (3/3/2018) petang.

Dari hasil pantauan KRJOGJA.com di sekitar lokasi, saban hari ribuan ekor nila budidaya jala karamba apung (jakapung) WGM mati. Bangkai nila tersebut dikumpulkan lalu diolah menjadi tepung yang selanjutnya dijual sebagai pakan ternak keluar daerah.

"Kasus seperti ini beberapa bulan lalu pernah terjadi  setelah ada penanganan dari pihak-pihak terkait sempat reda namun akhir-akhir ini kok muncul lagi," kata tokoh masyarakat Sendang, Sukamto.

Salah seorang pengusaha pengolahan bahan baku pakan ternak dari ikan-ikan mati, Puji Oliv (40), saat dikonfirmasi Sabtu (3/3/2018) membenarkan  limbah ikan yang dia jemur di pinggir WGM memang  menimbulkan bau kurang sedap. Namun, warga  Dawe RT 02/RW 14 Gumiwang Wuryantoro itu tidak mau  jika hanya tempat usahanya yang dituding menimbulkan polusi di sekitar Obwis Gajahmungkur.

"Sebab usaha kami masih berskala  kecil-kecilan, rata-rata hanya 5 kuintal perbulan dengan harga Rp 5 ribu perkilo. Malah ada yang mengolah berton-ton perhari," ungkap Puji.

Dia menambahkan, ribuan nila yang sudah  itu dikumpulkan dari para nelayan sekitar waduk diolah menjadi pakan bebek atas pesanan peternak bebek di Wonosari DIY dan beberapa wilayah lain.(Dsh)

 

BERITA REKOMENDASI