Bentrok Terjadi di Depan Kantor PN Karanganyar

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Dua korban dilarikan ke rumah sakit dalam aksi anarkistis menolak keputusan majelis hakim terkait vonis kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar, Jumat (30/09/2016). Korban tidak hanya dari kalangan pengunjuk rasa, namun juga dari aparat kepolisian yang terlibat baku hantam.

Cukup sulit mengevakuasi korban warga sipil di tengah situasi memanas adu fisik antara keluarga korban dengan aparat Polres Karanganyar di Jalan Lawu depan kantor PN. Berbekal tandu, sejumlah petugas berpakaian preman memberanikan diri merangsek ke kerumunan massa untuk membawa korban yang terkapar di jalan raya menuju gedung PN.

Seorang aparat terlihat sempoyongan dipapah rekan-rekannya kembali ke barisan. Beberapa petugas Propam langsung menyeret seorang oknum polisi dari barisan pagar betis karena diduga menganiaya seorang pengunjuk rasa sampai terluka parah. Kemudian, lokasi bentrok mendadak dipenuhi asap berasa pedih yang menyebabkan massa kocar-kacir.

Begitulah gambaran simulasi huru-hara oleh Satuan Dalmas Polres Karanganyar untuk menghadapi peristiwa itu yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Penanganan dilakukan sesuai prosedur dengan diawali negosiasi ke pengunjuk rasa kemudian melakukan tindakan tegas dalam rangka melindungi aset pemerintah dan aparat dari aksi perusakan.

“Skenarionya, keluarga korban pembunuhan yang tidak terima dengan keputusan PN ingin merusak gedung PN. Negosiasi ternyata gagal. Namun kami tetap berusaha meredam situasi dengan mengamankan provokator,” jelas Kasat Sabhara, AKP Mardiyanto kepada wartawan di lokasi.

Simulasi ini melibatkan 135 personel Dalmas inti dari markas Polres dan Dalmas rayon dari Polsek sekitar lokasi peristiwa. Guna meminimalisasi ekses simulasi huru-hara, ruas Jalan Lawu ditutup mulai depan Alun-alun kota sampai simpang empat Pegadaian. Persiapan simulasi ini dimulai sejak Kamis (29/09/2016) sore di pelataran alun-alun dengan materi prapenanganan sampai pascahuru-hara.

Lebih lanjut dikatakan Kasat Sabhara, aparatnya siap diterjunkan sewaktu-waktu menjalankan misi tersebut. Selain melatih kesiapan aparat dalam menghadapi bentrok fisik, simulasi itu bertujuan memoles kemampuan negosiator lebih baik dalam mempersuasi. (R-10)

BERITA REKOMENDASI