Berburu Tikus, Petani Sewa ‘Sniper’

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Petani di Desa Jati, Jaten memanfaatkan jasa penembak jitu untuk memburu hama tikus. Cara ini dinilai lebih aman dibanding memasang jebakan yang membahayakan nyawa.

“Jangan sampai petani di Desa Jati ikut-ikutan memasang kawat beraliran listrik di sawah. Sudah banyak contoh kejadian berakibat fatal sampai merenggut nyawa warga,” kata Kades Jati, Haryanta kepada KR, Minggu (23/8).

Awalnya, pemberantasan hama tikus di hamparan sawah di wilayahnya dengan memakai musuh alami. Yakni burung hantu atau tyto alba. Pemerintah dsa bahkan menyusun Perdes terkait hal itu, meliputi insentif pemeliharaan burung hantu dan sanksi bagi perburuannya. Meski efektif menumpas hama pertanian, namun tak bisa menyeluruh. Dikatakan Haryanta, jumlah tikus mencapai ribuan ekor sedangkan burung hantu yang dipeliharanya terbatas.

“Pada mulanya membeli 20 pasang. Tiap pasang dibikinkan rubuha (rumah burung hantu). Sekarang sudah berkembang menjadi 60 pasang. Memang banyak. Tapi dibanding tikus yang merajalela, burung hantunya tidak bisa memberantas semua. Paling satu ekor burung hantu, dalam semalam hanya makan satu atau dua ekor tikus,” katanya.

Beberapa waktu lalu, ia dan anggota kelompok tani di desanya menyewa pemburu tikus. Para penyedia jasa memakai senapan angin. Perburuannya dilakukan di malam hari. Untuk tiap tikus yang berhasil dibinasakan, diberi upah Rp 2.500. “Pernah dalam satu malam menghabisi 700 ekor tikus. Saat itu kami menyewa 28 sniper,” katanya.

BERITA REKOMENDASI