Bertanam di Dasar Waduk Delingan, Petani Berisiko Gagal Panen

KARANGANYAR,  KRJOGJA.com- Pertanian di dasar Waduk Tirtomarto Delingan berisiko gagal panen. Meski petani memahami risikonya, mereka nekat bercocok tanam.

Penting diketahui, volume waduk tersebut mengalami menyusutan drastis. Air terkumpul di bagian cekungan terdalam, sedangkan tepiannya mengering. Bagian kering dimanfaatkan untuk menanam padi, palawija, sayuran dan sebagainya. Dalam kondisi cuaca yang tidak menentu, petani merasa waswas.

“Menunggu dulu sampai airnya surut, sampai bagian tepi bisa ditanami. Dalam setahun, menunggu musim kemarau seperti sekarang. Namun, belum tentu bisa panen. Jika waduk terisi air, tanaman habis terendam,” kata Agus Widodo, warga Kampung Bodeyan, Kelurahan Delingan, Karanganyar Kota kepada KR

, Rabu (13/7).

Dalam 10 tahun terakhir bercocok tanam di dasar Waduk Delingan, ia mengalami puso empat kali akibat terendam air. Saat itu waduk dipenuhi air hujan dan pasokan aliran Sungai Kumpul. Puluhan petak sawah terendam.

“Mau meminta ganti siapa? Kalau panen, senang. Namun kalau puso, itu risiko ditanggung sendiri,” katanya.

Kali ini, ia menanam kacang panjang, ubi dan sayuran. Sedangkan di ladang lainnya ditanami padi. Seluruh petani di dasar waduk mengandalkan pengairan dari pompanisasi sisa air waduk dan aliran sungainya.   

“Usia tanam baru dua pekan. Biasanya, masa tanam dua setengah bulan. Semoga tidak berhalangan,” katanya.

Selain faktor cuaca, suplai air kurang menjadi faktor gagal panen lainnya. Dalam sehari, Agus harus menyediakan 7 liter bahan bakar minyak (BBM) untuk menyalakan mesin pompa air. Mesin itu mengalirkannya ke petak ladang miliknya yang berjarak 20 meter dari genangan.

“Semakin jauh dari genangan, makin banyak ongkos BBM yang dikeluarkan,” katanya.

Petani lainnya, Suroso membenarkan bercocok tanam di dasar Waduk Delingan bersifat spekulatif. Kebanyakan petani di areal tersebut tak memiliki mata pencaharian tetap. Mereka juga hanya pasrah jika pemerintah menggusurnya, ketika dilakukan normalisasi waduk.

“Daripada menganggur, lebih baik menggarap lahan. Tapi, saya enggak memiliki ladang. Di sini, memanfaatkan endapan tanah yang larut dari kebun tebu atas sana. Menggarap sawah di sini untung-untungan saja,” katanya.

Hasil panen dipakainya untuk kebutuhan rumah tangga. Hanya sedikit sisanya dijual ke pasar. (Lim)

 

 

BERITA REKOMENDASI