BI Budidaya Tawangmangu Super Sukses

KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Budidaya bawang putih jenis Tawangmangu Super di wilayah lereng Lawu membuka jalan keluar ketergantungan impornya. Hasil panen di generasi ketiga (G3) pada musim ini merupakan penyempurna dari dua kali uji coba sebelumnya. 

Pada G3, bibit yang ditanam sebanyak 63,5 kilogram di demplot berukuran 800 meter persegi. Dihasilkan produktivitas cabut basah 20,48 ton per hektare. Sedangkan produktivitas cabut basah pada generasi pertama (G1) sebesar 6,6 ton per hektare dan pada generasi kedua (G2) sebesar 15,6 ton per hektare. 

"Kami bekerjasama dengan Institute Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan bibit unggul penggandaan kromosom pada varietas bawang putih Tawangmangu Baru. Bibit yang dihasilkan diberi nama Tawangmangu Super. Saat ini sudah memasuki generasi ketiga. Penanamannya menggandeng kelompok taruna tani Tani Maju di Pancot Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu," kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI, Bambang Pramono di ladang bawang putih di Pancot.

Budidaya bawang putih bibit unggul merupakan program pemerintah dalam mengendalikan inflasi dan mencapai swasembada nasional komoditas itu pada 2021. Data menunjukkan Indonesia 95 persen pemenuhan bawang putih dari impor. Hal itu menyebabkannya ber kontribusi pada defisit transaksi berjalan atau CAD.

"Tingkat konsumsi bawang putih nasional pada tahun 2018 mencapai 482.180 ton, sementara kemampuan produksinya sebesar 19.513 ton, sehingga kurang lebih 95 persen kebutuhan konsumsi bawang putih dipenuhi melalui impor," katanya. 

Hasil panen G3 dapat dijadikan bibit pada musim tanam selanjutnya hingga akhirnya diperoleh hasil yang optimal untuk kemudian dapat dikembangkan secara massal.

Dia juga menerangkan, potensi bawang putih di Kabupaten Karanganyar cukup besar yakni luas panen mencapai 272 hektare dan kemampuan produksi mencapai 1.677,9 ton. Pengembangan pertanian bawang putih tersebar di Tawangmangu, Jatiyoso, Jenawi dan Ngargoyoso. Selain itu bawang putih dari Kabupaten Karanganyar, khususnya varietas Tawangmangu Baru, rata-rata produktivitasnya lebih tinggi. Selain itu dari segi cita rasa varietas ini dinilai lebih unggul (lebih pedas) dibandingkan varietas Kating yang diimpor dari China.(Lim)
 

BERITA REKOMENDASI