BPBD Sukoharjo Masih Kosentrasi Penuhi Air Bersih Warga Terdampak Kekeringan

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Sejumlah wilayah di Sukoharjo sudah diguyur hujan pertama. Meski masuk peralihan cuaca dari kemarau ke penghujan namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo masih mewaspadai wilayah kekeringan yang berdampak kekurangan air bersih untuk ribuan orang. Masyarakat juga diminta memanfaatkan hujan yang turun dengan menampung air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto, Kamis (20/9) mengatakan, hujan turun deras untuk kali pertama disejumlah wilayah di Sukoharjo pada peralihan cuaca sekarang, Rabu (19/9) sore. Hujan turun dalam rata rata durasi waktu antara satu sampai dua jam. Meski hanya sebentar namun air hujan yang turun cukup melegakan masyarakat khususnya di wilayah kering. Selain itu hujan dikatakan Sri Maryanto membantu mengurangi suhu udara yang sangat panas dalam beberapa bulan terakhir menjadi lebih dingin.

Masuk musim hujan membuat BPBD Sukoharjo mulai bersiap menghadapi kerawanan bencana alam. Meski begitu untuk posisi sekarang ditegaskan Sri Maryanto masih konsentrasi pada penanganan kekeringan pada sebagian masyarakat yamg kekurangan air bersih.

"Hujan baru pertama turun dan belum terlalu terasa dampaknya. Suhu udara jadi lebih dingin iya, kami tetap masih kosentrasi pada penanganan kekeringan tapi juga tidak melupakan kesiapsiagaan menghadapi kerawanan bencana alam seperti banjir karena sudah masuk peralihan cuaca dari kemarau ke penghujan," ujar Sri Maryanto.

Pembagian kosentrasi BPBD Sukoharjo dilakukan mengingat masih ada ribuan warga di wilayah terdampak kekeringan kekurangan air bersih. Mereka masih membutuhkan kiriman bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Warga yang terdampak kekeringan dan membutuhkan air bersih sepenuhnya mendapat jaminan dari Pemkab Sukoharjo. Air bersih akan selalu dikirim selama warga membutuhkan setiap hari. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan air bersih tersebut BPBD Sukoharjo mengintensifkan pemantauan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait baik camat, kepala desa, RW, RT dan tokoh masyarakat.

"Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih warga terdampak kekeringan sudah tidak ada masalah. Air terus dikirim oleh Pemkab Sukoharjo. Disisi lain kosentrasi kami bagaimana air hujan pada peralihan ini bisa dimaksimalkan pemanfaatanya oleh warga dengan melakukan penampungan," lanjutnya.

Sebelumnya kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan sangat dirasakan dampaknya bagi ribuan warga khususnya di wilayah Kecamatan Tawangsari dan Kecamatan Weru. Warga disana sangat mengandalkan air bersih dari sumur dan kondisinya sekarang kering karena terdampak kemarau panjang.

Kekeringan mengakibatkan warga di dua kecamatan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Merekapun sekarang mengandalkan air bersih bantuan dari berbagai pihak. Kiriman bantuan diterima warga hampir setiap hari menggunkan truk tangki air.

Di Kecamatan Tawangsari wilayah terdampak kekeringan yakni di Desa Watubonang. Sedangkan di Kecamatan Weru di Desa Alasombo, Desa Jatingarang, Desa Ngreco, Desa Tawang dan Desa Karangmojo. Wilayah tersebut merupakan langganan kekeringan setiap tahun saat kemarau panjang. Diperkirakan apabila hujan tidak segera turun maka jumlah warga terdampak kekeringan semakin bertambah. Sebab beberapa sumur warga di kedua kecamatan tersebut debit airnya terus menurun.

"Total ada 1.571 KK atau 5.095 jiwa di dua kecamatan dari total 12 kecamatan di Sukoharjo. Wilayah terdampak kekeringan berada di Kecamatan Tawangsari dan Kecamatan Weru," lanjutnya.

Sri Maryanto menambahkan, BPBD Sukoharjo juga bersiap menghadapi kerawanan bencana alam pada peralihan cuaca seperti angin kencang dan banjir. Khusus untuk banjir lebih disebabkan karena faktor meluapnya air disejumlah sungai dan kali. Untuk itu masyarakat khususnya yang tinggal disekitar wilayah tersebut untuk tetap waspada.

"Pemkab Sukoharjo sekarang sedang gencar melakukan perbaikan saluran dalam rangka memperlancar aliran air dan mengurangi kerawanan banjir. Pembangunan itu sangat efektif dan kerawanan banjir di Sukoharjo sekarang tinggal disebabkan meluapnya sungai atau kali," lanjutnya. (Mam)

BERITA REKOMENDASI