Bupati Wonogiri Buka Pasar Hewan, Ini Alasannya

Editor: Agus Sigit

WONOGIRI, KRJOGJA.com – Penutupan seluruh pasar hewan yang ada di daerah Kabupaten Wonogiri dinyatakan berakhir, Senin (20/6), setelah berlaku dua kali 15 hari atau satu bulan. Mulai Selasa (21/6) besuk Bupati Wonogiri Joko Sutopo sudah membuka kembali aktivitas pasar hewan di daerahnya kendati kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih tinggi.

“Pola penanganan atau antisipasi sekarang harus kita ganti. Kalau sebulan terakhir caranya dengan menutup pasar (hewan) yang ada, mulai besuk pasar hewan dibuka tapi dengan mengerahkan para petugas Dislapernak untuk melakukan pemeriksaan sebelum masuk pasar,” kata Bupati Joko kepada wartawan di kantornya, Senin siang.

Menurut dia, salah satu alasan pelonggaran bagi para peternak maupun pedagang hewan khususnya sapi lantaran saat ini mendekati hari raya kurban atau Idul Adha 1443H. “Kalau pasar hewan harus off (tutup) lagi ya kasihan ini mendekati Idul Adha, ekonomi bisa tumbuhlah,” imbuh pria yang akrab disapa Mas Jekek ini.

Diungkapkan, setiap hari pasaran dimana pasar hewan ramai pedagang maupun calon pembeli maka Pemkab Wonogiri melalui Dislapernak menerjunkan para mantri hewan untuk melakukan penghadangan atau pemeriksaan sebelum sapi dibawa masuk pasar. “Kalau di situ sudah diketahui hewan terpapar gejala PMK maka dilarang masuk, harus dibawa pulang,” terang Jekek. Upaya ini, lanjut bupati, kami nilai sangat tepat dan efektif mencegah penyebaran virus PMK.

Diakui bupati, meski pihaknya sudah dua kali menutup pasar hewan hingga satu bulan sejak kasus PMK pertama kali di Pasar Hewan Pracimantoro namun sapi yang suspek mau mati akibat PMK juga masih naik. Sehingga, metode pencegahan PMK oleh jajaran Pemkab Wonogiri khususnya Dislapernak harus dirubah.

“Selain mengoptimalkan fungsi para mantri hewan kami juga mengalokasikan dana MP (Mendahului Perubahan) APBD Wonogiri sekitar Rp 300 juta,” tutur dia. (Dsh)

BERITA REKOMENDASI