Cuaca Bersahabat, Produksi Rambak Tapioka Melimpah

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Cuaca bersahabat mendukung percepatan produksi rambak tepung tapioka skala rumah tangga di Kelurahan Delingan, Karanganyar Kota. Dalam sepekan, per unit usaha mampu menghasilkan 7 kuintal rambak matang.

“Alhamdulilah panas terus. Nyaris tak ada mendung. Pengeringan juga lebih cepat, dari sebelumnya bolak-balik menjemur sampai empat hari, kini cukup dua hari saja,” kata Suwarni, buruh pengeringan rambak tapioka di Delingan kepada KR, Senin (11/9). 

Pengeringan di bawah sinar matahari merupakan  tahap terakhir produksi rambak. Cara ini untuk meminimalisasi kadar air supaya rambak mentah awet di simpan sampai berbulan-bulan. Di desanya, belasan warga setempat dipekerjakan dua pemilik usaha rumah tangga itu sejak tiga tahun terakhir. Pekerjaan mereka terbagi di pembuatan adonan, pengeringan dan penggorengan. Dengan cuaca mendukung, per unit usaha bisa memproduksi 7 kuintal rambak matang tiap pekan. Biasanya, tengkulak mengambilnya langsung di rumah produksi kemudian menjualnya ke pedagang pasar tradisional untuk melayani permintaan eceran. Ia mengatakan, harga eceran di pasar Rp 180 ribu per lima kilogram. 

“Pengeringannya di area terbuka. Di tepian jalan kampung atau di halaman rumah. Misalnya mendung atau gerimis, jemuran rambak tinggal ditutup plastik terpal. Saat cerah, dibuka lagi,” katanya. 

Salah satu pemilik usaha rambak tapioka, Sukadi mengatakan bahan baku mudah diperoleh, yakni tepung tapioka dan terigu. Sedangkan bumbunya terasi, gendar, bawang putih, garam, soda kue dan penyedap rasa. Ia sengaja mempekerjakan para tetangga yang rata-rata ibu rumah tangga. 

“Setelah adonan jadi, kemudian diiris tipis dan dipotong lembar persegi panjang ukuran 5 sentimeter atau sesuai pesanan. Baru kemudian dijemur. Cuaca terik seperti ini juga menghemat biaya produksi. Pada musim hujan, terpaksa harus mengeringkannya di mesin oven berbahan bakar kayu,” katanya. 

Ia mengatakan, harga bahan baku cenderung stabil. Namun bumbu dapur dan bahan bakar sering berubah. Meski begitu, ia sulit menaikkan harga penjualan rambak tapioka. (Lim)

BERITA REKOMENDASI