Debat Publik Pilbup Karanganyar Diapresiasi

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR, KRjogja.com – Dua pasangan calon bupati dan wakil bupati Karanganyar, Rohadi Widodo-Ida Retno Wahyuningsih (Ro-Da) serta Juliyatmono-Rober Christanto (Yuli-Rober) mengikuti debat publik Pilbup Karanganyar di ruang paripurna DPRD Karanganyar, Senin (21/5). Keduanya dianggap berhasil menjaga etika bahasa, perilaku serta menyampaikan pesan secara cerdas.

“Jalannya debat publik ini normal. Beliau-beliau menjaga etika bahasa. Kemudian mampu menahan ambisinya untuk saling menjatuhkan di tiap sesi. Tampak sekali keduanya saling menjaga. Ternyata ada baiknya keduanya sama-sama dari satu atap (petahana kepala daerah),” kata panelis debat publik, Prof Dr Ir Darsono MSi kepada KR.

Ia tak menafikan cabup nomor urut 1, Rohadi Widodo dan nomor urut 2, Juliyatmono berkesempatan mengungkit aib untuk saling menjatuhkan dalam debat. faktanya, mereka masih wajar mengolah isu kemudian mengemasnya bermuatan bukan kebencian.

Dalam debat berdurasi dua jam itu, dua pasangan cabup-cawabup Karanganyar mengikuti enam sesi berbatas durasi yang dipandu moderator Andromeda Mercury. Sesi satu pada pemaparan visi misi paslon, sesi dua pada penajaman visi misi tersebut, sesi tiga paslon menjawab pertanyaan panelis, sesi empat adu argumentasi antarcabup bertema pembangunan karakter dan kerukunan umat beragama, sesi lima adu argumentasi antarcawabup bertema sarana dan prasarana dan sesi enam pertanyaan bebas antarpaslon berkaitan visi dan misi.

“Banyak argumen dan penjelasan paslon berisi irisan program keduanya saat masih bersama memimpin Karanganyar. Karena memang berangkat dari latar belakang sama. Hanya saja, dua cawabup itu pendatang baru. Penguasaan kontennya masih terasa terkonsentrasi di masing-masing calon bupatinya. Termasuk dialektikanya. Namun tetap masih ada waktu belajar,” katanya.

Di debat itu, Rohadi menyampaikan pentingnya pemegang kebijakan menguasai data konkrit. Dalam mengentaskan kemiskinan, dibutuhkan pendekatan secara makro maupun mikro.

“Kemiskinan makro di Karanganyar 12,3 persen sedangka mikronya 77.079 keluarga atau 262 ribu jiwa. Pendekatannya berbeda. Pada makro, berikan permodalan UMKM dan petani, pemuda dapat usaha kreatif serta menekan pengeluaran kurang perlu. Dalam sebulan, normalnya mengonsumsi 2.200 kilo kalori atau setara Rp 340 ribu. Untuk mikro, seperti memberdayakan OPD dan stakeholder untuk mengentaskan kemiskinan. Dalam satu periode nanti, 8.900 rumah tidak layak huni akan direhab,” katanya.

Sedangkan Juliyatmono memiliki jurus jitu mengembangkan pariwisata. Sikap tegasnya menolak eksplorasi Gunung Lawu tak bisa ditawar. Wisata alam, religi dan ilmiah bakal dikembangkan sampai puncak gunung tersebut.

“17 kecamatan layak dijadikan destinasi wisata. Ada pula budaya lokal berikut atraksi kesenian. Kita akan tunjukkan wisata di Karanganyar itu mendunia. Didukung Perda dan Perbup tentang desa wisata,” katanya. (Lim)

 

 

BERITA REKOMENDASI