Di Sragen, 7.000 Warga Masih Krisis Air Bersih

SRAGEN, KRJOGJA.com – Krisis air bersih masih melanda sedikitnya 7.000 warga di lima desa Kecamatan Tangen Sragen, kendati hujan dengan intensitas rendah sudah mulai turun. Ribuan warga yang kekurangan air bersih tetap antusias dan saling berebut setiap bantuan air bersih tiba di desanya.

Danramil Tangen, Kapten (Cpl) Petrus Catur di sela mengawal dropping air bersih dari BPR/BKK Karangmalang di Desa Galeh, Kecamatan Tangen, Rabu (27/9/2017) mengatakan, lima dari tujuh desa di Kecamatan Tangen yang mengalami krisis air bersih adalah Desa Galeh, Sigit, Dukuh, Katelan, dan Ngrombo. "Wilayah Tangen sebagian sumber airnya mengandung karat dan keruh sehingga tidak hanya musim kemarau, warga selalu kekurangan air bersih," ujarnya.

Menurut Catur, kendati wilayah Tangen sesekali sudah turun hujan, namun sumber air yang selama ini menjadi andalan warga tetap belum keluar. Sehingga warga terutama di lima desa tersebut masih membutuhkan bantuan air bersih. "Silakan yang mau membantu air bersih, koordinasi dengan kecamatan, titik-titik mana saja yang masih membutuhkan air," tandasnya.

Derita warga di wilayah krisis air itu juga menggerakkan manajemen BPR/BKK Karangmalang untuk menggelar aksi peduli. Manajemen yang dipimpin langsung oleh Dirut BPR/BKK Karangmalang, Raji, menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 15 tangki ke warga di dua kecamatan, Jenar dan Tangen.

Untuk Kecamatan Tangen sebanyak delapan tangki di Desa Galeh dan tujuh tangki sisanya disalurkan ke Desa Dawung, Jenar. Menurut Raji, bantuan air bersih itu sebagai wujud kepedulian sosial dari manajemen BPR/BKK Karangmalang terhadap penderitaan warga di wilayah kekeringan yang selama ini didera kesulitan air bersih. "Apalagi sumber air desa setempat terasa asin dan kadar kaporitnya tinggi. Mudah-mudahan bisa membantu dan memberikan manfaat," papar Raji.

Bantuan air dari BPR/BKK langsung disambut antusias warga di Dukuh Barong dan Trumun, Desa Galeh. Melihat bantuan air datang, mereka berhamburan ke luar rumah dan antre menggunakan jeriken, ember, dan penampung air lainnya. “Kalau nggaK ada bantuan, kami mencari air ke sumur yang jaraknya 1 kilometer di ujung desa. Makanya kami berterima kasih atas bantuan ini," ujar Mbah Giman, salah satu warga Dukuh Barong. (Sam)

BERITA REKOMENDASI