Dibalik Kasus Pembabatan Hutan Pelaksana Proyek Ingin Selamatkan Pekerja

KARANGANYAR (KR)-Satreskrim Polres Karanganyar menetapkan tersangka kasus perusakan hutan, Suwarto (46) warga Tawangmangu. Tersangka merupakan pelaksana proyek pembangunan kedai kopi di petak 45-2 RPH Tlogodringo BKPH Lawu Utara. 
Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi mengatakan pengusutan kasus ini diharapkan memberi pelajaran berharga semua pihak. 

"Supaya memastikan tindak pidana ini enggak terulang lagi," kata Leganek dalam gelar barang bukti di Mapolres.

Suwarto merupakan pelaksana proyek pembuatan area parkir di lokasi hutan milik Perhutani di Desa Gondosuli, Tawangmangu. Ia diberi pekerjaan meratakan lahan yang semula rimbun pepohonan itu oleh investor asal Solo berinisial WN. Aksi pembabatan pohon pinus itu berlangsung pada 3 Januari 2020. 

"Tersangka menggunakan ekskavator untuk menumbangkan dan memotong-motongnya dengan chainsaw," katanya. 
Polisi menetapkannya sebagai tersangka usai mengumpulkan berbagai alat bukti, barang bukti, dan keterangan saksi.

Leganek mengatakan, Suwarto selaku pimpinan proyek dianggap paling bertanggung jawab. Ia tidak mengantongi surat izin perobohan pohon dari Perhutani.
"Investor sudah mengajukan izin penggunaan lahan. Tapi untuk merobohkan, belum ada kesepakatan. Masih tahap perhitungan atau kalkulasi. Ini yang keliru. Belum klir mana yang akan dirobohkan sesuai arahan Perhutani. Tapi sudah duluan ditebang," katanya didampingi Kasat Reskrim AKP Ismanto Yuwono. 

Sekadar informasi, penebangan pohon dalam kasus itu beredar viral di media sosial. Kejadian tersebut menggiring aksi massal penanaman bibit pohon di Bukit Mitis, Tawangmangu. 

Sementara itu Suwarto meyakini langkahnya menumbangkan pohon tepat. Sebab saat meratakan tanah, bagian bawah pohon tergerus yang membuatnya rapuh. Jika tak ditebang, maka membahayakan keselamatan pekerjanya.

"Saya punya empat pekerja. Kalau enggak ditebang, bisa menimpa mereka. Soalnya pohonnya sudah rapuh. Itu inisiatif saya sendiri," katanya.

Barang bukti kasus ini berupa 18 potongan pohon pinus. Tiap potongan berukuran panjang 4 meter. Selain itu sebuah ekskavator dan chainsaw. Tersangka dijerat pasal 81 ayat (1) huruf a dan huruf b jo pasal 12 huruf a dan huruf b UURI no 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. 
Kuasa Hukum tersangka dari kantor Bahurekso & Partners Reso Adisetya mengatakan kliennya berhak memperoleh keadilan dan diasumsikan tak bersalah dalam kasus ini. Bahkan, memiliki hak penangguhan penahanan.

"Pak SWT itu secara ekonomi patut diperhatikan. Jangan hanya karena kasusnya viral, lalu mendapat hukuman tidak masuk akal. Kita mencoba memperjuangkan hak-haknya didapatkan," katanya. (Lim)
 

BERITA REKOMENDASI