Didi Kempot Maestro Musik, Digemari Semua Aliran

Editor: KRjogja/Gus

SOLO, KRJOGJA.com – Ditinjau dari aspek sosial dan budaya (etnomusikologi) terhadap musik dan lagu karya cipta Maestro Didi Kempot ternyata bisa lintas batas. Karya cipta Didi Prasetya yang memulai karier sebagai pengamen jalanan itu tidak saja masuk di genre musik campur sari namun bisa lintas batas disenangi kalangan penggemar seni musik, baik karawitan, pop, rock, jazz, blues, keroncong, punk, dangdut, serta musik kontemporer lainnya.

Hal itu diungkapkan oleh etnomusikolog Joko S Gombloh, dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dalam forum liman tanggal lima memperingati tanggal wafatnya maestro musik Didi Kempot di Rumah Bloger Indonesia (RBI) Solo, Jajar, Solo, Kamis (6/8/2020).

Menurut Joko Gombloh yang juga dikenal sebagai pemain bass yang piawai, seniman DK memiliki peninggalan karya seni musik yang luar biasa. “Pakdhe DK adalah seniman langka yang lahir di bumi Indonesia dan berhasil menciptakan lagu berbahasa Jawa tapi berhasil mendunia.”tuturnya.

Siapa menyangka, lanjut Joko Gombloh, DK yang memulai karier musik dengan menjadi penyanyi jalanan itu berhasil mencipta ratusan lagu berbahasa Jawa awalnya dinilai masuk irama musik campursari. Namun berhasil lintas batas menembus relung hati penggemar musik pop, rock, jazz, blues, keroncong, punk, dangdut, serta musik kontemporer lainnya. “Fenomena cukup unik saat konser musik jazz di gunung Bromo Lumajang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Penggemar fanatik musik jazz malah mengelu-elukan dan berjoget bersama, saat pemusik campur sari Didi Kempot tampil di panggung menyanyikan lagu “Banyu Langit” tentu diiringi musik jazz ” papar Joko Gombloh sambil menambahkan ketokohan seorang Didi Kempot saat berhasil meng “ambyar” kan sekat-sekat aliran musik dengan lagu-lagunya yang bercerita tentang orang patah hati tapi disikapi dengan berjoget gembira.

Sementara Blonthank Poer wakil Sobat Ambyar komunitas penggemar Didi Kempot (DK) mengatakan, setelah pakdhe DK pergi ke peristirahatan abadi, warisan karyanya pun tetap akan dilestarikan. “Berbagai cara dilakukan demi merawatnya, kami Komunitas RBI, Sobat Ambyar dan Kempoter mencoba mengais jejak-jejak proses kesenimanan almarhum. Salah satunya, melalui Forum Liman yakni, pertemuan rutin pada tanggal 5 setiap bulannya. Ada sekadar pementasan kecil untuk dinikmati syair dan melodinya, namun ada ruang untuk membincang tentang karya dan potret perjalanannya.” papar Bloenthank.

Menurut Bloentank, tokoh di belakang layar yang berhasil mengkoordinir pentas amal virtual Didi Kempot ditayangkan kompas tv berhasil meraup dana Rp 7 miliar untuk disumbangkan masyarakat yang terdampak Covid-19,

keunikan seorang Didi Kempot adalah proses kreatifnya, juga perjalanan karirnya. “Pakdhe DK mengamen di berbagai kota, berhasil masuk dapur rekaman, namun masih mengedarkan rekaman karyanya, mengendarai sepeda motor untuk mengetuk pintu-pintu rumah dan kantor kenalannya.”tutur Blonthank.

Blonthank menambahkan secara materi, mestinya DK semasa hidupnya bisa lebih kaya (dan ‘berhak’ bergaya), tapi yang ditunjukkan justru kesederhanaanya.” Banyak cerita dan kesaksian, ia punya tabiat bagi-bagi duit hasil keringatnya kepada siapa saja, terutama kaum papa, tukang parkir, sesama pengamen, hingga portir stasiun kereta atau bandara,”pungkas Blonthank. (Hwa)

 

BERITA REKOMENDASI