Dipakai Sedot Air, Gas ‘Melon’ Langka

SRAGEN (KRjogja.com) – Musim kemarau panjang, gas elpiji ukuran 3 kg di sejumlah wilayah Kabupaten Sragen mulai langka. Banyaknya petani yang memakai gas elpiji untuk bahan bakar mesin penyedot air memicu kenaikan harga elpiji 'melon' hingga tembus Rp 23.000 per tabung.

Kelangkaan gas elpiiji bersubsidi ini dilaporkan sudah terjadi beberapa pekan terakhir seiring kekeringan yang mulai terjadi. Sejumlah warga di sebagian besar kecamatan berbasis pertanian, seperti Kecamatan Sidoharjo, Tanon, Gondang, Sambirejo, Sambungmacan, dan Ngrampal mengeluhkan hal yang sama, yakni hilangnya gas elipiji melon.

Salah satu petani Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen, Wardoyo Jumat (8/9) mengatakan, sudah sepekan terakhir gas memang sulit didapat. Kadang harus antri di pangkalan untuk sekedar mendapat satu atau dua tabung elpiji. "Karena banyak petani yang menyedot air pakai elpiji, sehingga kelangkaan terjadi. Belum lagi harga eceran yang sudah tembus Rp 23 ribu," ujarnya.

Menurut Wardoyo, musim kemarau ini para petani memang banyak yang memburu gas elpiji 3 kg untuk bahan bakar mesin penyedot air. Untuk luasan seperempat hektare, biasanya membutuhkan 3 tabung elpiji ukuran 3 kg untuk sehari semalam menghidupkan mesin sedot air.

Padahal, sebagian petani yang lahannya lebih luas ada yang punya dua mesin sehingga sekali menyedot bisa habis enam tabung. Pihaknya berharap pemerintah bisa lebih peka untuk memberikan tambahan kuota elpiji demi menyelamatkan lahan padi yang saat ini sudah memasuki masa pertumbuhan.

Petani lain asal Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Suparno mengatakan, para petani di desanya juga banyak yang membutuhkan elpiji untuk mengairi sawah. Kondisi ini berimbas pada kenaikan harga di pasaran. Di pangkalan harga jual bisa mencapai kisaran lebih dari Rp 20 ribu pertabung. "Setiap hari selalu beli. Meski sulit, tetap harus cari meski harganya sudah naik," terangnya.

Terpisah, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengaku kelangkaan gas elpiji itu memang dipicu meningkatnya permintaan dari para petani yang memakai elpiji untuk menyedot air. Fenomena ini memang selalu terjadi setiap musim kemarau tiba. "Kami akan kirim surat ke Pertamina meminta tambahan kuota. Bagaimana lagi, pertanian juga harus diselamatkan karena irigasi sudah kering," tuturnya. (Sam)

BERITA REKOMENDASI