Dipicu Unggahan di Sosmed, Anggota Perguruan Silat Rusak Rumah Warga

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR, KRjogja.com – Satreskrim Polres Karanganyar menangkap enam pelaku perusakan rumah, sepeda motor dan penganiaya warga di Dusun Dersono Rt 02 Rw IV Desa/Kecamatan Mojogedang. Selain itu, seorang lagi ditetapkan tersangka pengunggah ujaran kebencian yang memicu aksi perusakan dan penganiayaan tersebut.

Wakapolres Karanganyar Kompol Purbo Adjar Waskito mengatakan kasus itu bermula saat DT alias D (20) mengunggah ke story whatsapp sebuah video berisi simbol salah satu perguruan silat yang diberi tulisan ‘Jika Kehadiranmu Hanya Sebagai Perusak Pemecah Belah Persaudaraan Lebih Baik pergi Saja’. Story tersebut sengaja ditangkap layar oleh saksi SH alias A. SH sempat menanyakan maksud DT mengunggah itu. SH kemudian meneruskan hasil tangkapan layar itu ke saksi AL pada Senin (17/5) . Lantaran merasa tersinggung, ia kemudian melaporkan DT ke polisi.

“Sempat dilakukan mediasi di Polsek Mojogedang pada Senin (17/5) malam. Di sana, DT meminta maaf. Di situ juga dihadiri oleh sejumlah anggota kelompok perguruan silat yang merasa dirugikan dengan postingan itu. Namun sepertinya, rasa sakit hati masih membekas. Kemudian setelah mediasi selesai, beberapa anggota kelompok pesilat itu mencari DT untuk membuat perhitungan,” katanya kepada wartawan dalam gelar barang bukti kasus tersebut, Rabu (16/6).

Sesampainya anggota kelompok perguruan silat itu di Dusun Dersono, mereka langsung mencari DT. Saat itu sudah lewat tengah malam. Kedatangan mereka secara bergerombol membuat warga setempat yang sedang meronda curiga. Bermaksud ingin mengusir mereka agar menjauh dari perkampungan, justru dua warga jadi bulan-bulanan para pelaku. Jendela kaca di dua rumah pecah terkena lemparan batu. Selain itu, warga mengalami luka bernama Suyadi (45).

“Hasil visum para korban menjadi alat bukti kasus ini. Bukti lainnya seperti pecahan kaca, pot, batu bata dan sebagainya. Juga ada satu unit sepeda motor kondisi rusak,” katanya.

Para pelaku perusakan dan penganiayaan diamankan polisi, yakni DTA alias DK (19) dan EHF alias RK (20) asal Karangpandan. Lalu BS alias BB (21), SRY alias BI (29), RPO (21) dan DPI alias KMT (26) asal Mojogedang. Terhadap mereka, dijerat pasal 170 KUHP ayat 1 dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.

Lebih lanjut Wakapolres mengaku tak gentar memproses hukum siapapun meski jumlahnya tidak sedikit. Ia juga berpesan agar masyarakat tidak mudah terpancing emosi.

“Pengunggah ujaran kebencian dijerat UU ITE sedangkan para pelaku perusakan dan penganiayaan dijerat pasal KUHP. Semua diamankan ke kantor polisi karena untuk menghindari bentrok dan untuk diproses lebih lanjut sesuai hukum berlaku,” katanya.

Sementara itu DT mengaku iseng mengunggah lambang perguruan silat tertentu yang dibumbui hinaan. Ia tidak menyangka kasusnya berbuntut panjang. Terhadap dirinya, dijerat UU ITE dengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. (Lim)

Gelar barang bukti kasus perusakan dan penganiayaan (foto:Abdul Alim)

 

BERITA REKOMENDASI